Mumbai, India – Rupee India merosot tajam hingga menyentuh rekor terendah baru di atas ₹94 per US Dollar.
Bloomberg mengeluarkan kritik terhadap kepemimpinan Gubernur Reserve Bank of India (RBI) Sanjay Malhotra di tengah pelemahan mata uang yang terus berlanjut.
Menurut artikel Bloomberg yang terbit baru-baru ini, pelemahan rupee terjadi akibat guncangan global, termasuk tarif dagang dari Amerika Serikat dan dampak perang Iran yang memicu kenaikan harga minyak serta ketidakpastian ekonomi dunia.
Rupee terus tertekan meski RBI telah melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Baca Juga: Tornado Dahsyat Hantam Pangkalan Udara Vance dekat Enid Oklahoma, Puluhan Warga Luka Ringan
Rupee India mencatat level terendah sepanjang masa di atas ₹94 terhadap dolar AS.
Pelemahan ini semakin dalam setelah berbagai kejutan eksternal, mulai dari perang di Timur Tengah hingga kebijakan tarif yang mempengaruhi aliran modal dan harga komoditas energi.
India sebagai importir minyak besar sangat rentan terhadap kenaikan harga crude oil akibat konflik Iran.
Pelemahan signifikan terjadi dalam beberapa pekan terakhir, dengan rekor baru tercatat di akhir Maret hingga April 2026.
Bloomberg merilis kritik terhadap Gubernur Malhotra dalam artikel terbaru (last updated 11 menit lalu).
Peristiwa ini berpusat di pasar valuta asing India, dengan dampak langsung dirasakan di Mumbai sebagai pusat keuangan negara.
Reserve Bank of India (RBI) yang bermarkas di Mumbai menjadi sorotan utama.
Gubernur RBI Sanjay Malhotra menjadi sasaran kritik Bloomberg atas kepemimpinannya dalam menangani stabilitas rupee.
Sebelumnya, Malhotra menyatakan bahwa langkah pembatasan pasar valuta asing bersifat sementara dan tidak akan bertahan selamanya.
Namun, pelemahan rupee yang berlanjut memicu pertanyaan tentang efektivitas kebijakan moneter RBI.
Faktor utama adalah guncangan eksternal: perang Iran yang mengganggu pasokan energi global, kenaikan harga minyak, serta tarif dagang yang membebani emerging markets termasuk India.
Selain itu, outflow investor asing dan spekulasi di pasar offshore turut memperburuk kondisi rupee.
Pelemahan rupee ini berisiko meningkatkan inflasi impor, terutama harga bahan bakar dan barang kebutuhan pokok di India.
RBI telah melakukan intervensi besar-besaran, termasuk pembatasan posisi bearish di pasar, namun Bloomberg menilai langkah tersebut berisiko menjauhkan investor global.
Pasar saham dan obligasi India juga ikut tertekan.
Gubernur Malhotra sebelumnya menekankan bahwa ekonomi India tetap kuat meski menghadapi berbagai kejutan global.
Ia juga sempat memperingatkan risiko spillover inflasi dari konflik Timur Tengah.
Namun, kritik dari Bloomberg menyoroti bahwa rupee telah mencatat multiple record lows selama masa kepemimpinannya.
Saat ini, otoritas RBI terus memantau perkembangan pasar dan siap mengambil langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas mata uang.
Investor dan pelaku pasar diimbau waspada terhadap volatilitas yang masih tinggi.
Update terkini (11 menit lalu): Bloomberg kembali menyoroti tantangan yang dihadapi Gubernur Sanjay Malhotra di tengah pelemahan rupee yang belum menunjukkan tanda perbaikan signifikan.
Editor : Iwa Ikhwanudin