Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Trump Tolak Serangan Nuklir ke Iran di Tengah Blokade Selat Hormuz, Perang 56 Hari Masih Berlanjut

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 24 April 2026 | 13:15 WIB
 Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menolak penggunaan senjata nuklir terhadap Iran meski ketegangan di Selat Hormuz semakin memanas.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menolak penggunaan senjata nuklir terhadap Iran meski ketegangan di Selat Hormuz semakin memanas.

Washington DC / Tehran, Iran – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menolak penggunaan senjata nuklir terhadap Iran meski ketegangan di Selat Hormuz semakin memanas.

Pernyataan ini disampaikan di tengah perang yang sudah berlangsung 56 hari sejak 28 Februari 2026.

Trump menyatakan bahwa AS tidak akan menggunakan senjata nuklir melawan Iran karena militer AS telah “menghancurkan” target-target Iran secara konvensional dengan sangat efektif.

Ia menegaskan, “Nuclear weapon should never be allowed to be used by anybody.”

Baca Juga: Info Ala Honda Istimewa, Honda Vario 125 Street Hadir dengan Gaya Berani

Sementara itu, AS mengklaim telah menguasai total Selat Hormuz dan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menenggelamkan setiap kapal Iran yang mencoba menebar ranjau.

Perang dimulai pada 28 Februari 2026 dengan serangan udara gabungan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Pernyataan Trump menolak serangan nuklir disampaikan sekitar 59 menit lalu (Kamis malam, 23 April 2026 waktu setempat), saat perang memasuki hari ke-56.

Fokus utama berada di Selat Hormuz, jalur strategis pengapalan minyak dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia.

Serangan awal terjadi di Tehran, ibu kota Iran, sementara operasi laut berlangsung di perairan Selat Hormuz.

Baca Juga: Rupee India Anjlok Rekor di Atas Rp94 per Dolar AS, Bloomberg Kritik Gubernur RBI Sanjay Malhotra

Presiden Donald Trump memimpin kebijakan AS, termasuk blokade dan serangan rudal.  

Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei yang kini menjabat pemimpin sementara Iran, mengalami luka parah dan berkomunikasi melalui catatan tulis tangan.  

Angkatan Laut AS dan militer Israel terlibat langsung dalam operasi.

Perang pecah setelah serangan udara AS-Israel yang bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dan melemahkan rezim.

Trump ingin memaksa Iran menandatangani kesepakatan nuklir permanen.

Baca Juga: Waterspout atau Angin Puting Beliung Muncul di Selat Madura Dekat Jembatan Suramadu, BMKG Imbau Waspada Saat Pancaroba

Blokade Selat Hormuz dilakukan untuk memotong pendapatan minyak Tehran dan menekan Iran agar menyerah.

AS telah meluncurkan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk, sehingga stok rudal mulai menipis.

Trump membandingkan situasi ini dengan perang panjang Amerika di Vietnam dan menolak tekanan untuk segera menyelesaikan konflik.

Ia memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menenggelamkan kapal-kapal kecil Iran yang menebar ranjau, sambil menjaga Selat Hormuz tetap tertutup bagi ekspor minyak Iran.

Meski demikian, Trump terus mendorong tercapainya kesepakatan nuklir permanen.

Baca Juga: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Wacanakan Biaya Transit Kapal di Selat Malaka, Terinspirasi Selat Hormuz Iran

Hingga kini, perang masih berlangsung dengan ketegangan tinggi di Selat Hormuz.

Trump menekankan bahwa AS menguasai jalur tersebut sepenuhnya dan tidak akan ragu menenggelamkan ancaman apa pun.

Sementara itu, Iran di bawah kepemimpinan sementara Mojtaba Khamenei terus berupaya melawan blokade.

Update terkini (59 menit lalu): Trump kembali menegaskan penolakan terhadap opsi nuklir dan memprioritaskan tekanan konvensional serta diplomasi untuk mencapai kesepakatan jangka panjang yang menghentikan program nuklir Iran.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Trump Iran #serangan nuklir Iran #perang AS Iran 2026 #selat hormuz #perang iran