Tel Aviv – Pesawat yang membawa Presiden Israel Isaac Herzog terpaksa mengambil rute memutar selama delapan jam via Eropa dan Rusia untuk menghindari ruang udara Turki saat menuju Kazakhstan.
Kunjungan resmi dua hari tersebut tetap berlangsung meski diwarnai ketegangan diplomatik antara Turki dan Israel.
Menurut laporan media Israel Channel 12 yang dikutip TRT World, pesawat kepresidenan Israel mengikuti jalur alternatif yang jauh lebih panjang untuk mencapai Astana, ibu kota Kazakhstan.
Data Flightradar juga mengonfirmasi perubahan rute signifikan tersebut.
Baca Juga: Seorang Pria dari Suku Odisha, India, Gali Kubur Kakaknya, Bawa Kerangka ke Bank untuk Tarik Uang
Pesawat Herzog tidak diizinkan melintasi wilayah udara Turki, sehingga pilot harus mengambil jalan memutar melalui Eropa dan Rusia.
Akibatnya, durasi penerbangan bertambah menjadi delapan jam.
Isaac Herzog, Presiden Israel, yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan dua hari ke Kazakhstan.
Pemerintah Turki yang kembali menutup ruang udaranya bagi pesawat Israel.
Media Israel Channel 12 dan TRT World yang memberitakan peristiwa ini.
Peristiwa ini terjadi pada akhir April 2026, saat Herzog melakukan perjalanan ke Kazakhstan.
Kunjungan tersebut berlangsung selama dua hari untuk memperkuat hubungan bilateral di bidang perdagangan, teknologi, dan energi.
Rute penerbangan dari Israel menuju Astana, Kazakhstan, yang semula bisa lebih singkat melalui Turki, kini dialihkan via Eropa dan Rusia.
Kunjungan resmi berlangsung di ibu kota Kazakhstan.
Ini bukan kali pertama. Pada November 2024, Turki juga menolak izin lintas udara bagi Herzog yang hendak menghadiri COP29 di Baku, Azerbaijan.
Saat itu, Herzog akhirnya membatalkan perjalanan dengan alasan keamanan.
Penolakan ini mencerminkan ketegangan diplomatik Turki-Israel yang berlarut akibat konflik di Timur Tengah.
Meski rute memutar, kunjungan Herzog ke Kazakhstan tetap dilaksanakan. Langkah ini menunjukkan upaya Israel mempertahankan hubungan dengan negara-negara Asia Tengah di tengah isolasi dari beberapa negara Muslim, termasuk Turki.
Peristiwa ini semakin menegaskan dinamika geopolitik di kawasan, di mana isu ruang udara sering menjadi alat diplomasi.
Hubungan Turki-Israel yang memburuk sejak konflik Gaza terus berdampak pada berbagai aspek, termasuk lalu lintas penerbangan resmi. (red)
(Berita ini dihimpun dari laporan Channel 12 Israel dan TRT World, Selasa (28/4/2026)
Editor : Iwa Ikhwanudin