Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Tewaskan 3 Orang, WHO: Risiko Publik Masih Rendah, Virus Andes dari Argentina Menyebar ke 8 penumpang MV Hondius

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 8 Mei 2026 | 13:52 WIB
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. 

YOGYAKARTA — Dunia kembali dikagetkan oleh wabah penyakit menular. Kali ini bukan COVID-19, melainkan hantavirus strain Andes yang menyerang penumpang kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda di Samudra Atlantik.

Per 8 Mei 2026, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan delapan kasus telah teridentifikasi—lima di antaranya terkonfirmasi melalui tes laboratorium.

Kapal MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026, dengan rencana perjalanan menuju Antartika dan sejumlah pulau terpencil di Atlantik Selatan. Saat ini kapal tersebut memuat sekitar 150 orang dari 23 negara.

Kasus pertama diduga bermula dari seorang penumpang asal Belanda yang terpapar virus sebelum naik kapal. Ia dan istrinya disebutkan sedang birdwatching—aktivitas mengamati burung—di area tempat pembuangan sampah di luar Ushuaia, Argentina. Namun hipotesis ini belum terkonfirmasi secara resmi.

Baca Juga: Kiai Ashari Pendiri Ponpes Ndholo Kusumo Pati Ditangkap di Wonogiri, Diduga Cabuli 30-50 Santriwati di Bawah Umur

Pada 11 April, seorang penumpang meninggal di atas kapal. 

Jenazahnya baru dapat diturunkan pada 24 April di Saint Helena, tempat istrinya juga turun dari kapal.

Dua hari kemudian, sang istri meninggal di rumah sakit di Johannesburg.

Pada 27 April, seorang penumpang asal Inggris dievakuasi ke Johannesburg dalam kondisi kritis namun stabil.

Penumpang ketiga meninggal di atas kapal pada 2 Mei.

Baca Juga: Demo Protes di Indramayu, Tak Ditemui Bupati Lucky Hakim, Massa Aliansi Topi Jerami Lempar Puluhan Ular ke Pendopo Kabupaten

Kapal yang semula berencana berlabuh di Tenerife, Kepulauan Canary, Spanyol, ditolak oleh Presiden Regional Fernando Clavijo dengan alasan keselamatan warganya.

WHO merespons dengan menyatakan bahwa Spanyol memiliki "kewajiban moral dan hukum" untuk membantu para penumpang, termasuk beberapa warga negara Spanyol yang ada di atas kapal.

Hantavirus Andes adalah satu-satunya strain hantavirus yang diketahui dapat menular dari manusia ke manusia, meski hal itu sangat jarang terjadi.

Penularan antarmanusia berkaitan dengan kontak erat dan berkepanjangan, terutama di antara anggota keluarga serumah, pasangan intim, atau tenaga medis yang merawat pasien.

Secara umum, hantavirus adalah kelompok virus zoonosis yang bisa menyebabkan gangguan paru dan ginjal.

Baca Juga: Waspada Super El Niño 2026! Peluang Terkuat dalam Sejarah, Ancaman Kekeringan Ekstrem hingga Krisis Pangan di Indonesia

Gejalanya meliputi pendarahan hebat, demam tinggi, hingga kematian.

Tidak ada pengobatan atau vaksin khusus untuk hantavirus.

Namun, perawatan medis dini—seperti terapi oksigen, penggunaan ventilator, dan dialisis—dapat meningkatkan peluang bertahan hidup pasien.

Kementerian Kesehatan Argentina melaporkan 101 kasus hantavirus sejak Juni 2025, hampir dua kali lipat jumlah kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Tingkat kematian akibat penyakit ini mendekati sepertiga dari total kasus dalam setahun terakhir, meningkat dari rata-rata 15 persen dalam lima tahun sebelumnya.

Baca Juga: 23 Kasus Positif Hantavirus di Indonesia hingga 2026, Dua Kasus Suspek Ada di Jakarta Utara, dan Kulon Progo, Yogyakarta

Para ahli mengaitkan lonjakan ini dengan perubahan iklim.

Suhu yang lebih tinggi memperluas habitat hewan pengerat pembawa virus.

Argentina juga mengalami pola cuaca ekstrem—kekeringan panjang diikuti hujan deras—yang memicu pertumbuhan vegetasi dan menarik lebih banyak populasi tikus ke permukiman manusia.

Studi komprehensif di berbagai kota besar Indonesia menemukan seroprevalensi hantavirus pada manusia mencapai sekitar 11,6 persen.

Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu orang pernah terpapar virus ini.

Kementerian Kesehatan RI mencatatnya sebagai zoonosis emerging yang berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

Baca Juga: Gunung Dukono Meletus Dahsyat 8 Mei 2026, Kolom Abu Menjulang Tinggi di Atas Pemukiman dan Pelabuhan Halmahera Utara

Gejala awal hantavirus—demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan—hampir identik dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis.

Akibatnya, banyak kasus kemungkinan besar salah diagnosis atau tidak terdeteksi sama sekali, menciptakan apa yang dikenal sebagai fenomena iceberg (gunung es).

WHO menegaskan bahwa wabah ini bukan awal dari pandemi atau epidemi baru.

"Meski ini insiden serius, WHO menilai risiko kesehatan publik masih rendah," ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam pernyataan resminya.

Masyarakat diminta waspada dengan menghindari kontak dengan tikus dan kotorannya, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala demam disertai nyeri otot setelah berada di lingkungan yang berpotensi terpapar hewan pengerat. (iwa)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#MV Hondius #Hantavirus Indonesia #virus Andes #kapal pesiar hantavirus #gejala hantavirus