Jakarta/Yogyakarta – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas.
Militer Amerika Serikat (AS) melalui US Central Command (CENTCOM) melancarkan serangan “self-defense” di wilayah selatan Iran dekat Bandar Abbas pada Senin (25 Mei 2026).
Serangan ini menargetkan situs peluncur rudal dan kapal-kapal Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) yang diduga hendak memasang ranjau di perairan Selat Hormuz.
Menurut juru bicara CENTCOM, Capt. Tim Hawkins, aksi tersebut dilakukan untuk melindungi pasukan AS dari ancaman langsung pasukan Iran.
Baca Juga: Bukan Sekadar Tradisi, Pakar UGM Sebut Rutin Minum Jamu Ampuh Cegah Diabetes hingga Kanker
“Kami terus mempertahankan pasukan kami sambil menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung,” ujarnya.
Ledakan dilaporkan terdengar di sekitar Bandar Abbas, kota pelabuhan utama Iran yang strategis di Selat Hormuz, serta wilayah pesisir terdekat.
Hingga berita ini ditulis, pihak Iran belum memberikan komentar resmi atas insiden tersebut.
Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata April 2026 yang masih sangat rapuh.
Baca Juga: Ramadhipa Impresif, Melesat Raih Podium Perdana di Moto3 Junior Barcelona
Gencatan senjata tersebut menyusul serangan besar AS-Israel pada Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan menargetkan program nuklir serta rudal Teheran.
Saat ini, negosiasi masih berlangsung untuk memperpanjang gencatan senjata hingga 60 hari, termasuk konsesi nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Selat ini merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia, di mana sekitar 20% pasokan minyak global melewatinya setiap hari.
Bagi Indonesia sebagai negara importir minyak, setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi mendorong harga BBM dunia naik tajam dan memengaruhi inflasi serta daya beli masyarakat.
Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Sambut Siswa Wisata Studi Sambil Edukasi Berkendara
Beberapa pihak menilai serangan AS ini sebagai uji batas gencatan senjata, sementara pihak lain menyebutnya sebagai respons defensif terhadap provokasi Iran.
Diskusi damai antara AS dan Iran sempat menunjukkan kemajuan, namun insiden ini berisiko menggagalkan upaya diplomasi. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin