Shannan, Tibet – Sebuah video menakjubkan tentang fenomena atmosfer langka bernama Red Sprite atau "hantu merah" kembali viral di platform X (Twitter).
Video tersebut menunjukkan kilatan cahaya merah berbentuk seperti ubur-ubur atau kolom raksasa yang muncul di atas badai petir di wilayah Shannan, Tibet, China.
Fenomena ini diabadikan oleh fotografer astrofotografi asal China, Dong Shuchang.
Ia merekamnya menggunakan kamera kecepatan tinggi dari lokasi di dataran tinggi Tibet pada ketinggian lebih dari 5.000 meter di atas permukaan laut.
Rekaman slow-motion 120 fps memperlihatkan detail indah yang jarang tertangkap mata manusia.
Red Sprite merupakan Transient Luminous Events (TLE) atau peristiwa cahaya sementara yang terjadi di mesosfer, lapisan atmosfer bumi pada ketinggian 40-90 kilometer.
Berbeda dengan petir biasa yang menyambar dari awan ke tanah, red sprite justru bergerak ke atas sebagai respons terhadap petir positif yang sangat kuat di bawahnya.
Cahaya merahnya berasal dari molekul nitrogen yang tereksitasi.
Baca Juga: Melek Konten NSFW di Media Sosial: Mengapa Filter Mandiri Kini Jadi Keharusan?
Bentuknya yang seperti ubur-ubur atau kolom membuatnya tampak seperti kembang api merah raksasa di langit malam.
Durasi fenomena ini sangat singkat, hanya beberapa milidetik hingga puluhan milidetik, sehingga sulit diamati tanpa peralatan khusus.
Menurut para ilmuwan dari NASA dan NOAA, red sprite bukanlah hal yang benar-benar "paling langka" di Bumi, tetapi sangat sulit direkam karena sifatnya yang sementara dan terjadi di ketinggian tinggi.
Fenomena serupa juga pernah tercatat di Amerika Serikat, Eropa, dan bahkan Asia, termasuk wilayah Himalaya.
Baca Juga: Penggunaan Scan Wajah Untuk Registrasi Nomor HP Baru
Video Dong Shuchang yang diunggah ulang di akun @mordownik4u pada X langsung mendapat puluhan ribu interaksi dalam waktu singkat.
Netizen banyak yang mengira itu efek CGI atau fenomena supernatural, padahal ini adalah fenomena ilmiah yang nyata dan telah dipelajari oleh para peneliti.
Fotografer Dong Shuchang sendiri dikenal sebagai "pemburu red sprite".
Rekamannya sebelumnya juga membantu ilmuwan memahami lebih dalam tentang aktivitas listrik di atmosfer atas.
Baca Juga: Asah Kreativitas dan Solidaritas, Astra Motor Yogyakarta Gelar “Scoopy Your Mode, Your Ride”
Fenomena seperti red sprite mengingatkan kita betapa luar biasanya alam semesta.
Di tengah kemajuan teknologi, masih banyak misteri langit yang belum sepenuhnya terungkap.
Bagi warga Indonesia yang berada di kawasan tropis dengan frekuensi badai tinggi, fenomena serupa juga berpotensi diamati meski jarang terekam seindah di Tibet.
Editor : Iwa Ikhwanudin