Radar Malioboro – Sebuah video pertengkaran jalanan di Thailand yang viral di media sosial X (Twitter) diklaim menunjukkan Letnan Jenderal India Rajiv Kumar Sahni (DG EME Indian Army) dipukuli oleh sekelompok ladyboy di Phuket, Thailand.
Klaim ini beredar luas sejak 1 Juni 2026, terutama di akun-akun pro-Pakistan, lengkap dengan gambar headline palsu Times of India.
Namun, klaim tersebut terbukti hoaks.
Video berdurasi sekitar 30 detik tersebut menampilkan seorang pria India diseret dan dipukuli oleh beberapa orang di pinggir jalan.
Namun, bukan Lt Gen Rajiv Kumar Sahni yang menjadi korban, melainkan Raj Jasuja, wisatawan India berusia 52 tahun.
Insiden asli terjadi pada 27 Desember 2025 di Pattaya (bukan Phuket), akibat perselisihan pembayaran jasa escort.
Fakta yang Ditemukan:
Korban asli: Raj Jasuja, warga sipil India, bukan perwira militer.
Ia mengalami luka di wajah dan kepala, sempat mendapat pertolongan pertama sebelum dibawa ke rumah sakit.
Lokasi: Pattaya, Thailand, bukan Phuket.
Video lama: Rekaman ini sudah beredar sejak awal 2026 dan kini didaur ulang untuk propaganda silang India-Pakistan.
Video yang sama sebelumnya juga digunakan untuk menuduh Mayor Jenderal Pakistan Faisal Naseer ("Dirty Harry") mengalami hal serupa.
Baca Juga: Peralihan Minat Mendengarkan Musik Lokal Bagi Gen-Z
Fact-checker dari kedua belah pihak menyatakan video tersebut tidak ada kaitannya dengan jenderal mana pun.
Lt Gen Rajiv Kumar Sahni dikabarkan tetap menjalankan tugas resmi tanpa ada laporan insiden dari pihak India atau Thailand.
Video ini menjadi bahan bakar perang narasi online antara netizen India dan Pakistan.
Akun-akun troll sering menggunakan footage lama wisatawan yang berkelahi dengan pekerja seks di Thailand untuk saling menghina.
Polisi Pattaya sendiri pernah melakukan razia terhadap pelaku serupa untuk melindungi wisatawan.
Peringatan untuk Pembaca: Selalu verifikasi berita sebelum share, terutama konten viral dari media sosial yang disertai headline palsu.
Hoaks seperti ini mudah menyebar dan memicu permusuhan tidak perlu.
Editor : Iwa Ikhwanudin