Yogyakarta, 3 Juni 2026 - Climatologist terkemuka Indonesia, Prof. Dr. Erma Yulihastin dari BRIN, kembali memberikan peringatan dini soal fenomena iklim yang mengkhawatirkan.
Menurutnya, Super El Niño berpotensi terbentuk dengan cepat mulai Juni 2026, didorong tiga faktor utama yang mirip dengan peristiwa historis tahun 1997 dan 2015.
Dalam utas di akun X pribadinya, Prof. Erma menjelaskan:
Evolusi panas di bawah permukaan Samudra Pasifik mirip dengan kejadian 1997 (Kelvin wave).
Baca Juga: Lemonilo Ajak Jaga Kesehatan Fisik dan Pikiran di Waisak Borobudur
Panas ekstrem di North Pacific (BOLB) yang bergabung dengan El Niño, seperti yang terjadi pada 2015.
Pemanasan global yang menambah pemanasan lautan hingga 1-2°C.
Animasi dari Climate Prediction Center yang dibagikan menunjukkan anomali suhu di kedalaman ekuatorial Pasifik semakin intens dari Maret hingga Mei 2026.
Juni disebut sebagai bulan krusial transisi dari kondisi lemah menuju moderat, kemudian kuat hingga super pada Juli-Agustus 2026.
Baca Juga: Dorong Mutu Berbasis Data, PWM DIY Luncurkan Instrumen KPI untuk Sekolah Muhammadiyah
Prof. Erma memprediksi fase kering meluas di selatan Indonesia karena absennya aktivitas gelombang atmosfer sepanjang Juni.
“Terutama Bali-Lombok-NTB-NTT siapkan skenario terburuk tak hujan dari Juni-November!” tulisnya.
Wilayah tersebut berisiko mengalami kemarau ekstrem yang panjang, berdampak pada:
Ketersediaan air bersih
Pertanian dan ketahanan pangan
Risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
Pariwisata di Bali dan sekitarnya
Baca Juga: Bermodus Asmara, Sindikat Love Scamming di Solo Baru Raup Rp41,1 Miliar
Peringatan ini sejalan dengan proyeksi berbagai lembaga internasional seperti NOAA dan WMO yang melihat peluang tinggi El Niño berkembang kuat pada pertengahan hingga akhir 2026, diperburuk oleh pemanasan global.
Di Indonesia, kombinasi El Niño dengan potensi Indian Ocean Dipole (IOD) positif bisa memperparah kondisi kering.
BMKG sebelumnya juga telah mengingatkan kemarau lebih kering dan panjang di 2026, meski intensitas El Niño masih dipantau secara ketat.
Prof. Erma menekankan pentingnya persiapan dini dari pemerintah daerah dan masyarakat:
Stok air dan pangan cadangan
Pengelolaan irigasi efisien
Mitigasi kebakaran
Diversifikasi tanaman tahan kekeringan
Editor : Iwa Ikhwanudin