Columbus, Ohio – Direktur FBI Kash Patel secara resmi meluncurkan daftar “Top 10 Most Wanted Fraudsters” baru, sebuah inisiatif yang digagas Wakil Presiden JD Vance untuk memberantas kejahatan keuangan skala besar di Amerika Serikat.
Daftar ini menargetkan para pelaku fraud yang menyebabkan kerugian puluhan juta hingga miliaran dolar AS.
Pengumuman tersebut disampaikan Patel dalam konferensi pers di Columbus, Ohio, pada Kamis (4/6/2026), bersama pejabat Departemen Kehakiman.
“Terima kasih atas visi Wakil Presiden JD Vance. Ia mengusulkan agar kita punya daftar Top 10 Most Wanted khusus untuk fraudsters, seperti yang sudah ada untuk teroris, geng, dan penjahat lainnya,” ujar Patel.
Patel menekankan pentingnya peran masyarakat Amerika.
“Saya ingin seluruh warga Amerika melihat daftar ini dan memperhatikan jumlah kerugiannya—puluhan juta hingga miliaran dolar yang merusak masyarakat kita. Kami mengandalkan Anda, informasi terbaik datang dari publik Amerika,” tegasnya.
Masyarakat diminta melaporkan informasi melalui tips.fbi.gov, 1-800-CALL-FBI, atau kantor FBI setempat.
Hadiah hingga US$150.000 tersedia untuk informasi yang membantu penangkapan.
Baca Juga: Pakar Ekonomi Peringatkan Rekor Surplus Dagang RI 72 Bulan akan Segera Berakhir
Daftar Top 10 Most Wanted Fraudsters yang Diungkap
Beberapa nama yang masuk dalam daftar awal beserta tuduhan dan estimasi kerugian (menurut sumber FBI):
Herbert Kimble: Kerugian mencapai US$1,2 miliar (healthcare fraud).
Elaine Angene: Wire fraud dan money laundering, US$32 juta.
Christopher Burns: Mail fraud, US$10 juta.
Rodney Dean Allen: Wire fraud, US$7,3 juta.
Said Abdullahi Ereg: Wire fraud dan money laundering, US$4,2 juta.
Michael Lizaro: Illegal gambling conspiracy, US$34 juta.
Serta pasangan John Michael Dimitrion dan Julanne Balduzeta Dimitrion (mortgage fraud).
Daftar lengkap dapat diakses langsung di situs resmi FBI: fbi.gov/wanted/most-wanted-fraudsters.
Peluncuran ini bagian dari upaya besar pemerintahan Trump-Vance memberantas fraud di program pemerintah, termasuk Medicaid, PPP loan, dan romance scam.
Dalam kesempatan yang sama, pihak berwenang mengumumkan dakwaan terhadap 14 orang di Ohio terkait skema Medicaid senilai US$30 juta yang seharusnya untuk terapi anak-anak.
Kejahatan fraud skala besar ini tidak hanya merugikan keuangan negara, tapi juga menggerogoti dana publik yang seharusnya digunakan untuk layanan kesehatan, bantuan sosial, dan perlindungan masyarakat rentan.
Inisiatif ini diharapkan menjadi model kerjasama federal-negara bagian dalam pemberantasan korupsi keuangan.
Masyarakat internasional, termasuk di Indonesia, dapat memantau perkembangan ini karena banyak skema fraud lintas negara seperti romance scam dan investasi bodong yang sering menyasar korban dari berbagai negara.
(Sumber: Konferensi Pers FBI, Fox News, dan situs resmi FBI. Artikel ini disusun berdasarkan fakta pengumuman resmi per 5 Juni 2026).
Editor : Iwa Ikhwanudin