Yawata, Jepang – Shoko Kawata, Wali Kota Yawata di Prefektur Kyoto yang berusia 35 tahun, resmi mengumumkan akan mengambil cuti melahirkan selama 16 minggu.
Keputusan ini menjadikannya wali kota pertama di Jepang yang mengambil cuti melahirkan saat masih menjabat, sekaligus memicu perdebatan nasional tentang keseimbangan kerja dan kehidupan keluarga di tengah krisis penurunan populasi.
Kawata, yang terpilih sebagai wali kota termuda sekaligus perempuan termuda pada 2023, diperkirakan melahirkan anak pertamanya pada pertengahan September 2026.
Ia berencana mulai cuti pada Juli 2026, dengan rincian delapan minggu sebelum melahirkan dan delapan minggu setelahnya.
Baca Juga: Israel Balas Serangan Rudal Iran: IDF Lakukan Serangan Udara di Iran Barat dan Tengah
Selama cuti, ia akan tetap berkoordinasi dengan dewan kota dan siap menangani urusan mendesak secara remote.
Menurut CNN dan berbagai media Jepang seperti The Japan Times serta Asahi Shimbun, langkah Kawata menyoroti celah kebijakan di Jepang.
Meski pekerja biasa dilindungi undang-undang cuti melahirkan, pejabat terpilih seperti wali kota berada di area abu-abu tanpa kerangka hukum formal untuk cuti orang tua.
Kawata sendiri menyatakan harapannya: “Di saat partisipasi perempuan semakin ditekankan, saya ingin menunjukkan bahwa pemimpin pun bisa mengambil cuti melahirkan dengan baik. Hal ini diharapkan mendorong lebih banyak perempuan untuk berani mengambil tantangan.”
Keputusannya mendapat dukungan luas dari kalangan yang mendorong modernisasi budaya kerja Jepang yang selama ini dikenal kaku dan berjam-jam panjang.
Namun, tak sedikit kritik dari pihak tradisionalis yang mempertanyakan komitmen pemimpin publik terhadap tugasnya.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, khususnya daerah seperti Yogyakarta yang juga mendorong pemberdayaan perempuan dalam kepemimpinan publik.
Di tengah upaya nasional menekan angka stunting dan mendukung program KB sekaligus pemberdayaan perempuan, kisah Kawata bisa menjadi inspirasi bagi pemimpin perempuan Indonesia untuk menyeimbangkan karier dan keluarga tanpa harus mengorbankan salah satunya.
Jepang sendiri tengah berjuang dengan tingkat kelahiran terendah di dunia.
Langkah Kawata diharapkan menjadi preseden positif bahwa kepemimpinan dan motherhood bisa berjalan beriringan.
(Sumber: CNN, The Japan Times, Asahi Shimbun)
Editor : Iwa Ikhwanudin