Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Hari Laut Sedunia 2026: Tema Reimagine Aja Masyarakat Mengubah Cara Pandang dan Merawat Lautan

Bunga Faizati Hudianna • Senin, 8 Juni 2026 | 11:16 WIB
Ilustrasi ekosistem bawah laut. (Foto: Magnific)
Ilustrasi ekosistem bawah laut. (Foto: Magnific)

RADAR MALIOBORO - Setiap tanggal 8 Juni, masyarakat Internasional memeringati Hari Laut Sedunia atau World Oceans Day sebagai momentum untuk mengevaluasi sekaligus menyemarakkan penyelamatan ekosistem maritim.
 
Di tengah krisis iklim, peringatan tahunan ini merupakan refleksi atas nasib samudra yang kian tereksploitasi. Melalui aksi ini, dunia dituntut menyadari bahwa penurunan kualitas lautan adalah ancaman langsung terhadap keberlangsungan peradaban manusia.

Mengutip laman resmi PBB, Hari Laut Sedunia pertama kali digagas dalam Konferensi Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, pada 1992. Dalam forum tersebut, berbagai negara mulai menyoroti peran besar laut dalam menjaga keseimbangan kehidupan dan lingkungan.

Baca Juga: Wali Kota Perempuan Termuda Jepang Ambil Cuti Melahirkan 16 Minggu, Catat Sejarah Baru

Agenda tersebut terus bergulir hingga mendapatkan penegasan dalam Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg, Afrika Selatan, pada 2002. Secara resmi, legalitas peringatan ini dikukuhkan Majelis Umum PBB melalui Resolusi 63/111 pada 5 Desember 2008, yang menetapkan tanggal 8 Juni sebagai hari perayaan sekaligus menunjuk Divisi Urusan Kelautan dan Hukum Laut PBB sebagai koordinator utama gerakan tersebut.

Laut memegang kendali penuh atas sistem tata iklim global yang mengondisikan Bumi layak huni. Regulasi suhu, pergerakan arus, siklus hidrologi pencegah anomali cuaca, hingga ketersediaan air bersih dan pangan secara absolut bergantung pada kesehatan kimiawi laut.

Sepanjang sejarah, wilayah perairan juga berfungsi sebagai jalur logistik utama yang menggerakkan roda perdagangan internasional. Dari sektor ekonomi modern, data PBB memproyeksikan industri berbasis kelautan akan menyerap sedikitnya 40 miliar tenaga kerja pada tahun 2030. 

Baca Juga: Israel Balas Serangan Rudal Iran: IDF Lakukan Serangan Udara di Iran Barat dan Tengah

Namun, realitasnya menunjukkan jejak buram akibat tekanan aktivitas antropogenik yang destruktif. Pencemaran masif di wilayah pesisir oleh limbah industri, sisa zat kimia berbahaya, dan jutaan ton sampah plastik telah merusak ekosistem makro secara sistematis. Kerusakan ini memukul sektor perikanan skala kecil dan memicu efek terhadap stabilitas sosial-ekonomi pesisir.

Merespons kedaruratan ekologis tersebut, PBB berkolaborasi dengan organisasi nirlaba Oceanic Global menetapkan "Reimagine" sebagai tema Hari Laut Sedunia 2026. Tema ini merupakan refleksi terhadap kebijakan pengelolaan maritim yang bias daratan. 

Selama ini, paradigma masyarakat cenderung menempatkan lautan sebagai objek yang jauh dari keseharian, atau sebagai wadah pembuangan akhir tanpa batas. Melalui perubahan cara pandang ini, para pembuat kebijakan dan pelaku industri dipaksa untuk menyudahi praktik eksploitasi dan fokus pada upaya pemulihan ekosistem laut secara berkelanjutan.

Komitmen dalam memulihkan ekosistem samudra bukan lagi sekadar pemenuhan target pembangunan berkelanjutan, melainkan jaminan bagi bertahannya peradaban manusia di masa depan. (Bunga Faizati Hudianna).

Editor : Iwa Ikhwanudin
#hari laut sedunia #World Oceans Day #penyelamatan ekosistem maritim #krisis iklim #internasional