Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Fenomena 'Cold Blob' di Atlantik Utara: Tanda AMOC Melemah, Ancaman Serius Bagi Iklim Global?

Iwa Ikhwanudin • Sabtu, 13 Juni 2026 | 01:57 WIB
Ancaman serius bagi iklim global.
Ancaman serius bagi iklim global.

SEBUAH area luas di Samudra Atlantik Utara, tepat selatan Greenland dan Islandia, menunjukkan perilaku aneh.

Sementara suhu lautan dunia terus memanas akibat perubahan iklim, patch air ini justru semakin dingin.

Penelitian terbaru Juni 2026 mengaitkannya dengan pelemahan sirkulasi samudra raksasa AMOC, yang disebut sebagai salah satu titik kritis (tipping point) iklim paling mengkhawatirkan.

Fenomena yang dikenal sebagai "Cold Blob" atau "gumpalan dingin" ini telah menjadi perhatian ilmuwan selama bertahun-tahun.

Peta suhu anomali menunjukkan kontras mencolok: sebagian besar Samudra Atlantik berwarna merah-oranye (lebih panas), sementara area selatan Greenland tampak biru cerah (lebih dingin).

Baca Juga: Fenomena Lipstick Effect: Mengapa Kita Tetap Hobi Belanja Barang Kecil di Tengah Sulitnya Ekonomi? 

Menurut studi yang dipublikasikan di Geophysical Research Letters, penyebab utama adalah berkurangnya transportasi panas dari selatan akibat melemahnya Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC).

AMOC merupakan "sabuk konveyor" samudra yang membawa air hangat dari daerah tropis ke utara, menjaga Eropa Barat tetap relatif hangat.

Penyebab Utama: Air Tawar dari Es Greenland

Pelemahan AMOC diduga dipicu oleh masuknya air tawar dari pencairan es Greenland yang masif.

Baca Juga: Resmi Rilis! Mengenal Voice Actor, Lore Mendalam, dan Rekomendasi Build Terbaik Lohen di Genshin Impact

Air tawar ini mengurangi kepadatan air laut di permukaan, sehingga mengganggu proses tenggelam yang menjadi "mesin penggerak" sirkulasi AMOC.

Studi tersebut memperkuat bukti bahwa cold blob bukan sekadar variasi alam biasa, melainkan sinyal pelemahan AMOC yang telah berlangsung.

Beberapa model menunjukkan AMOC kini berada di level terlemah dalam sekitar 1.000 tahun terakhir.

Baca Juga: Gandeng Disney dan Pixar, Porsche Rilis Tiga Mobil 911 Spesial Toy Story 5 untuk Amal

Dampak Potensial bagi Dunia dan Indonesia

Jika AMOC terus melemah atau mendekati titik kritis, dampaknya bisa luas:

Pendinginan regional di Eropa Barat Laut dan sekitar Greenland/Islandia.

Kenaikan muka air laut lebih cepat di Pantai Timur Amerika Serikat.

Perubahan pola monsun dan curah hujan di berbagai belahan dunia.

Gangguan pada sistem cuaca global, termasuk potensi musim dingin yang lebih ekstrem di beberapa wilayah.

Baca Juga: Harga Emas Antam Sabtu 6 Juni 2026: Naik Rp20.000, Jadi Rp2.709.000 per Gram

Bagi Indonesia, meski berada di khatulistiwa, perubahan sirkulasi samudra global seperti ini dapat memengaruhi pola El Niño-La Niña, intensitas musim hujan, dan ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.

Respons Ilmuwan dan Kontroversi

Beberapa ilmuwan menekankan pentingnya pemantauan lebih lanjut karena data samudra dalam masih terbatas.

Namun, konsensus semakin kuat bahwa ini merupakan sinyal serius dari dampak pemanasan global.

CNN melaporkan fenomena ini sebagai "tanda mengkhawatirkan" bahwa dunia sedang menuju salah satu tipping point iklim paling alarm.

Penelitian ini menambah urgensi bagi upaya mitigasi perubahan iklim global, termasuk pengurangan emisi gas rumah kaca.

Baca Juga: Hari Dunia Menentang Pekerja Anak 2026: Momentum Global Lindungi Hak Anak

Fenomena cold blob mengingatkan kita betapa saling terhubungnya sistem Bumi—perubahan di Atlantik Utara pun bisa berdampak ke Nusantara.

Editor : Iwa Ikhwanudin
#laporan CNN #Geophysical Research Letters #cold blob #AMOC melemah #perubahan iklim