Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

AS dan Iran Sepakat Akhiri Perang, Selat Hormuz Resmi Dibuka Kembali

Bunga Faizati Hudianna • Senin, 15 Juni 2026 | 15:05 WIB
Ilustrasi pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. (Foto: ANTARA/Anadolu/py)
Ilustrasi pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. (Foto: ANTARA/Anadolu/py)

SETELAH lebih dari 100 hari dilanda konflik bersenjata yang mengguncang stabilitas global, Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya resmi menyepakati perjanjian damai untuk mengakhiri perang.

Pengumuman bersejarah ini pertama kali disampaikan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, melalui unggahan di media sosial X pada hari Minggu. Pakistan sendiri bertindak sebagai mediator utama dalam pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington.

Sharif mengungkapkan bahwa kedua belah pihak telah menyepakati penghentian permanen operasi militer di semua lini, termasuk meredam eskalasi di Lebanon. Upacara penandatanganan kesepakatan damai secara resmi dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 19 Juni 2026, di Swiss.

Baca Juga: Review Jujur 3 Girl Group Populer Saat Ini: Mengintip Pesona Katseye, ILLIT, dan LE SSERAFIM

Tak lama setelah pengumuman dari Pakistan, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi tercapainya kesepakatan tersebut melalui platform Truth Social. Trump menyatakan bahwa seluruh dokumen perjanjian dengan Republik Islam Iran kini telah selesai.
Dalam poin penting perjanjian tersebut, Trump mengumumkan berakhirnya blokade militer AS di jalur pelayaran vital dunia.

“Dengan ini saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol, dan, secara bersamaan, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal-kapal di dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!” tulis Trump.

Sebelumnya, Trump sempat menyampaikan kepada The Washington Post bahwa perjanjian ini kemungkinan akan ditandatangani secara elektronik, baik oleh dirinya sendiri maupun Wakil Presiden JD Vance. Sementara itu, dalam wawancara terpisah dengan The New York Times, Trump sempat melontarkan gagasan bahwa AS bisa saja memulai kembali operasi militer atau menjadi “penjaga” di Timur Tengah dengan imbalan 20 persen dari pendapatan kawasan tersebut, meski tidak jelas apakah pernyataan ini diucapkan sebelum atau setelah kesepakatan final tercapai.

Baca Juga: Hari Demam Berdarah ASEAN 2026: Komitmen Bersatu Menuju Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030

Di sisi lain, Wakil Presiden JD Vance menyambut optimis momentum ini. Kepada Fox News, Vance memuji diplomasi Trump dengan negara-negara Teluk dan mitra regional, serta menyebut gencatan senjata ini dapat mengantarkan era baru bagi Timur Tengah. 
Pihak Teheran kemudian turut mengonfirmasi pengumuman tersebut dan menyatakan bahwa berakhirnya perang akan diumumkan secara resmi pada Senin pagi GMT.

Kilas Balik Konflik 100 Hari

Konflik besar ini pertama kali pecah pada akhir Februari 2026, dipicu oleh serangan udara terkoordinasi dari AS dan Israel ke berbagai wilayah Iran. Teheran membalasnya dengan meluncurkan serangan ke Israel serta negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk.

Baca Juga: Sambut Malam 1 Suro, Ratusan Pendaki Ritual Mulai Padati Gunung Lawu, Jalur Pendakian Dibuka 24 Jam

Dampak dari pertempuran ini sangat kuat, termasuk penutupan Selat Hormuz, jalur logistik utama yang dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Meski sempat ada kesepakatan gencatan senjata pada bulan April, kedua negara tetap terlibat aksi saling balas secara berkala, termasuk dua putaran serangan udara yang terjadi pekan ini.

Krisis ini juga merembet ke Lebanon sejak awal Maret, ketika militan Hizbullah mulai menembaki Israel sebagai respons atas pengeboman di Iran. Bahkan, sesaat sebelum kesepakatan damai diumumkan hari Minggu kemarin, Israel sempat meluncurkan serangan udara ke Beirut yang memicu ketegangan baru.

Sambutan Hangat dan Harapan PBB

Merespons perkembangan positif ini, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, menyambut baik kesepakatan damai baru tersebut dan menyebutnya sebagai langkah menuju penghentian konflik. Melalui juru bicaranya, Guterres menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada negara-negara yang membantu jalannya negosiasi, seperti Pakistan, Qatar, Mesir, Arab Saudi, dan Turki.

Baca Juga: Urgensi Global di Balik Peringatan Hari Kesadaran Kekerasan Terhadap Lansia Sedunia

Sebelum kesepakatan diumumkan, Guterres sempat mengecam keras serangan udara Israel di Beirut yang terjadi di tengah momentum sensitif menjelang perdamaian. Ia memperingatkan bahwa konflik ini telah membawa dampak menghancurkan bagi ekonomi global.

Kini, dengan tercapainya kesepakatan resmi antara AS dan Iran, Guterres berharap kedua belah pihak dapat menjaga momentum ini dan melipatgandakan upaya mereka menuju resolusi akhir. PBB juga menegaskan kesiapannya untuk mengawal dan mendukung penuh terciptanya perdamaian yang langgeng dan komprehensif di Timur Tengah. (Bunga Faizati Hudianna).

Editor : Iwa Ikhwanudin
#iran israel #perang iran #iran #perang #amerika