Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Meredanya Tensi di Timur Tengah Picu Kejatuhan Harga Minyak Dunia ke Level Terendah dalam 3 Bulan

Bunga Faizati Hudianna • Rabu, 17 Juni 2026 | 11:39 WIB
Ilustrasi Selat Hormuz kembali dibuka. (Foto: Radar Jogja)
Ilustrasi Selat Hormuz kembali dibuka. (Foto: Radar Jogja)

HARGA minyak mentah dunia merosot tajam sekitar 5 persen untuk hari kedua berturut-turut pada perdagangan Selasa (16/6/2026). Penurunan ini membawa harga minyak ke level terendah dalam tiga bulan terakhir, dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah munculnya rincian kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus 2026 di London ICE Futures Exchange anjlok US$4,21 atau 5,1 persen menjadi US$78,96 per barel. Ini merupakan level penutupan terendah bagi Brent sejak 2 Maret lalu.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli 2026 di New York Mercantile Exchange merosot US$4,7 atau 5,8 persen ke posisi US$76,05 per barel yang termasuk level terendah sejak 4 Maret.

Baca Juga: Menilik Sejarah dan Peran Pelabuhan di Hari Dermaga Nasional 2026

Sebagai perbandingan, sehari sebelum perang AS-Iran pecah pada 28 Februari lalu, harga Brent berada di level US$72,48 per barel dan WTI di US$67,02 per barel.

Direktur Perdagangan Berjangka Energi Mizuho, Bob Yawger, menjelaskan bahwa sentimen utama jatuhnya harga komoditas ini adalah ekspektasi pemulihan jalur pasokan.

“Minyak mentah turun dengan cepat karena asumsi bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali,” kata Yawger dalam catatan risetnya.

Sebelum konflik bersenjata terjadi, sekitar 20 persen dari total pasokan minyak global dikirimkan melalui selat strategis tersebut. Selat Hormuz sendiri praktis terblokir oleh Iran sejak serangan awal yang diluncurkan oleh AS dan Israel.

Baca Juga: Hari Penyu Sedunia 2026: Momentum Menyelamatkan Penjaga Ekosistem Laut yang Kian Terancam

Rincian kesepakatan sementara yang terungkap pada Selasa kemarin mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Presiden AS, Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan ini akan mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir.

Di sisi lain, pejabat AS menyebutkan bahwa Iran akan kembali diizinkan untuk menjual minyaknya setelah dokumen resmi ditandatangani.

Meski pasar merespons positif kabar perdamaian ini, sejumlah pakar mengingatkan agar tidak terlalu larut dalam euforia. Proses pemulihan aktivitas pengiriman dan ekspor energi diperkirakan tetap membutuhkan waktu berminggu-minggu.

Baca Juga: PBNU Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada Rabu 17 Juni 2026, Berbeda dengan Pemerintah dan Muhammadiyah

Keraguan juga datang dari Lebanon. Kelompok Hizbullah yang didukung Iran menyatakan skeptis bahwa Teheran akan menandatangani kesepakatan nuklir final sebelum militer Israel menarik diri sepenuhnya dari wilayah Lebanon.

Analis dari perusahaan penasihat energi Ritterbusch and Associates menilai reaksi pasar saat ini terlalu optimistis.

“Untuk saat ini, pasar memberikan kepercayaan besar terhadap keberhasilan rencana ini, dengan mengabaikan sejumlah persoalan rumit seperti kompensasi finansial, sanksi, dan terutama kesepakatan nuklir yang memuaskan, yang sebagian besar menjadi alasan terjadinya perang,” tulis mereka.

Kendati demikian, kabar mengenai kesepakatan awal ini sudah cukup membuat deretan bank investasi seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citi langsung memangkas proyeksi harga minyak mereka ke depan.

Baca Juga: Pencinta Vario Semarakkan Night Ride Penuh Kebersamaan di Ajang "Vario Street Nation"

Selain isu Timur Tengah, pergerakan harga minyak global saat ini juga terus dibayangi oleh sentimen negatif lainnya. Mulai dari kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China, lonjakan inflasi global, tren kenaikan suku bunga, hingga seruan AS untuk mendamaikan konflik antara Rusia dan Ukraina.

Saat ini, fokus pelaku pasar tertuju pada laporan persediaan minyak mentah mingguan dari American Petroleum Institute (API) yang dirilis Selasa waktu setempat, serta data resmi dari Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu. Para analis memproyeksikan adanya penurunan persediaan minyak mentah AS sebesar 4,6 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 12 Juni.
(Bunga Faizati Hudianna).

Editor : Iwa Ikhwanudin
#harga minyak anjlok #Harga minyak dunia #timur tengah #Selat Hormuz ditutup #selat hormuz