Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Iran Kembali Menutup Selat Hormuz Usai Serangan Israel di Lebanon, Trump Berikan Ancaman Keras

Bunga Faizati Hudianna • Senin, 22 Juni 2026 | 14:42 WIB
Ilustrasi Selat Hormuz. (Foto: Radar Jogja)
Ilustrasi Selat Hormuz. (Foto: Radar Jogja)

RADAR MALIOBORO - Kawasan Timur Tengah kembali membara setelah otoritas Iran secara mengejutkan mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz pada akhir pekan lalu. Langkah ini diambil Teheran sebagai respons atas serangan udara masif Israel di Lebanon selatan, yang dinilai melanggar komitmen kesepakatan damai yang sebelumnya dijamin oleh Amerika Serikat (AS).

Penutupan jalur utama energi dunia ini terjadi hanya beberapa hari setelah sempat dibuka kembali berkat nota kesepahaman antara Presiden Iran, Masoud Pezeshkian dan Presiden AS, Donald Trump untuk mengakhiri perang kedua negara. 

Kantor berita Iran, Tasnim dan Fars, melaporkan bahwa Angkatan Laut Garda Revolusi (IRGC) belum mengeluarkan izin bagi kapal mana pun untuk melintas sampai pemberitahuan lebih lanjut. Komando militer pusat Iran menegaskan bahwa pemblokiran ini didasari oleh pelanggaran kontrak oleh AS serta tindakan Israel yang terus menggempur Lebanon selatan.

Baca Juga: Saling Memaafkan, Insiden Cekcok Danrem 072/Pamungkas dan Marshal di Mandiri Jogja Marathon Berakhir Damai

Dilansir dari Reuters dan Al Arabiya, sumber pejabat Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup rapat hingga dua syarat berikut dipenuhi, yakni gencatan senjata di Lebanon dihormati dan dipatuhi secara nyata serta izin yang memungkinkan penjualan minyak Iran resmi dikeluarkan.

Pihak militer Iran juga memberikan peringatan keras bahwa penutupan jalur pelayaran komersial ini barulah langkah awal, dan mereka tidak ragu mengambil tindakan lanjutan yang lebih ekstrem jika pelanggaran terus berlanjut.

Situasi di medan tempur Lebanon Selatan dilaporkan semakin memanas. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengakui mengalami kesulitan dan kehilangan sedikitnya empat tentara, termasuk seorang perwira, akibat serangan kelompok Hizbullah.

Sebagai balasan, Israel melancarkan pemboman bertubi-tubi yang menewaskan total 47 orang, di mana 32 orang di antaranya tewas dalam serangan satu hari pada Sabtu (20/6/2026).

Baca Juga: Hari Hutan Hujan Sedunia 22 Juni: Momentum Menjaga Paru-paru Dunia dan Masa Depan Indonesia

Meskipun pejabat AS sempat mengumumkan bahwa Israel dan Hizbullah telah menyepakati gencatan senjata pada Jumat (19/6/2026) yang dibenarkan oleh militer Israel, namun situasi di lapangan menunjukkan hal berbeda.

“Pasukan akan terus bergerak untuk melenyapkan ancaman yang datang seketika,” ujar juru bicara militer Israel tak lama setelah pengumuman gencatan senjata.

Sementara itu, pihak Hizbullah belum memberikan konfirmasi resmi terkait gencatan senjata tersebut. Namun, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menegaskan bahwa “rencana untuk melenyapkan Hizbullah telah gagal".

Pihak Amerika Serikat langsung merespons situasi ini dengan dua sikap yang berbeda antara militer dan presidennya. Dari sisi operasional, militer AS membantah klaim penutupan sepihak oleh Iran dan menyatakan bahwa lalu lintas kapal komersial tetap berjalan normal.

Baca Juga: Mengubah Coretan Menjadi Cuan: Tips Memulai Hobi Menggambar yang Menghasilkan

Namun dari sisi politik, Presiden AS Donald Trump bereaksi sangat keras. Dalam wawancara dengan pada Senin (22/6/2026), Trump mengancam Iran dengan konsekuensi yang bisa menghilangkan eksistensi negara tersebut jika Selat Hormuz terus diblokade.

“Kalian bahkan tidak akan bisa kembali ke negara kalian,” ujar Trump memberi peringatan kepada warga Iran atas keputusan pemerintah mereka.
Trump juga memperbarui peringatannya agar Iran segera menghentikan dukungan terhadap kelompok proksinya, Hizbullah. Jika tidak, AS mengancam akan meluncurkan serangan militer langsung ke Iran.

“Jika mereka tidak melakukannya, kami akan kembali menyerang Iran dengan sangat keras, seperti yang kami lakukan pekan lalu, hanya saja lebih keras lagi,” tegas Trump.

Baca Juga: Sukses Digelar, Roadshow "Honda It's Time to School" Bangkitkan Semangat Kreativitas Pelajar di Yogyakarta

Selain itu, Trump melontarkan gagasan bahwa AS dapat bertindak sebagai “malaikat pelindung” Selat Hormuz sekaligus mengambil keuntungan ekonomi dari jalur strategis tersebut. Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai, Trump menyebut kemungkinan AS akan memungut biaya atau memperoleh 20 persen bagian dari minyak yang dihasilkan di kawasan Teluk.

Saling silang pernyataan antara klaim penutupan oleh Iran dan bantahan lalu lintas normal oleh AS langsung memicu kebingungan bagi pasar global. Mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sebagian besar ekspor minyak dunia, gangguan pada jalur ini dikhawatirkan akan mengulang guncangan hebat pada harga energi internasional seperti yang terjadi pada perang sebelumnya.

Kondisi ini otomatis menempatkan hubungan geopolitik segitiga antara Iran, Israel, dan AS berada dalam fase yang sangat rapuh. (Bunga Faizati Hudianna).

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Perang Iran vs AS-Israel #Selat Hormuz ditutup #selat hormuz #Perang Iran Israel