Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

500 Nyawa Hilang di Laut Myanmar, Kenapa Tragedi Rohingya Ini Bukan Cerita yang Jauh dari Kita?

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Jumat, 17 Juli 2026 | 13:45 WIB
Warga melakukan evakuasi paksa pengungsi etnis Rohingya dari kapal di pesisir pantai Lancok, Kecamatan Syantalira Bayu, Aceh Utara, Aceh, Kamis (25/6/2020). (ANTARA)
Warga melakukan evakuasi paksa pengungsi etnis Rohingya dari kapal di pesisir pantai Lancok, Kecamatan Syantalira Bayu, Aceh Utara, Aceh, Kamis (25/6/2020). (ANTARA)
 
Pemandangan kehancuran di sebuah kamp pengungsi setelah terjadi kebakaran di Cox's Bazar, Bangladesh. (Pexels)

RADAR MALIOBORO - PBB mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas hilangnya lebih dari 500 orang. 

Diikuti dengan terbaliknya dua kapal besar yang diduga terbalik di pantai Myanmar dalam beberapa hari terakhir.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan Badan Pengungsi PBB (UNHCR) menyatakan bahwa kedua kapal tersebut berangkat dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar, pada akhir Juni 2026 lalu. 

Mayoritas penumpangnya adalah warga etnis rohingya.

Baca Juga: iOS 27 Beta 2 Resmi Meluncur, Intip Fitur-Fitur Baru dan Peningkatan Siri yang Lebih Cerdas!

Hingga saat ini, insiden dan jumlah korban belum dikonfirmasi resmi, namun UNHCR dan IOM menyebut kemungkinan hilangnya nyawa dalam skala sebesar ini sebagai sesuatu yang sangat mengkhawatirkan.

Berdasarkan catatan IOM, sepanjang 2023 setidaknya ada 569 warga Rohingya tewas atau hilang saat menyeberangi lautan menuju negara tujuan seperti Malaysia, Indonesia, dan Thailand.

Angka itu naik menjadi 598 orang pada 2024 dan melonjak tajam menjadi 890 orang pada 2025.

Dengan kata lain naik sekitar 40 persen dari tahun sebelumnya.

Baca Juga: KWT Sorosutan Optimalkan Urban Farming, Revitalisasi Demplot TOGA lebih produktif

Jika insiden dua kapal ini nantinya dikonfirmasi menewaskan sebagian besar dari 500 orang yang hilang, maka baru pertengahan tahun 2026, angka kematian tahun ini berpotensi sudah melampaui rekor tahun lalu.

Rohingya adalah kelompok etnis minoritas Muslim asal Myanmar yang selama puluhan tahun tidak diakui kewarganegaraannya oleh pemerintah negara tersebut, sehingga berstatus tanpa negara (stateless).

Kondisi ini membuat mereka tidak bisa dipulangkan kembali ke Myanmar dan terjebak dalam kondisi tempat pengungsian yang serba terbatas di Bangladesh.

Tragedi itu sebenarnya bukan cerita yang sepenuhnya jauh dari Indonesia.

Sejak gelombang kedatangan dimulai pertengahan November 2022, ribuan pengungsi Rohingya telah mendarat di berbagai titik pesisir Aceh, mulai dari Pidie, Aceh Besar, Aceh Timur, hingga Kota Sabang.

Baca Juga: Bosan Bawa Bakpia? Ini 3 Oleh-Oleh Anti-Mainstream Jogja yang Wajib Diborong

Per akhir Juni 2026, sebanyak 340 imigran etnis Rohingya masih ditampung di tiga lokasi pengungsian di Aceh, yakni Seuneubok Rawang, Mina Raya, dan Aceh Utara.

Mereka menunggu proses penempatan ke negara ketiga yang dikoordinasikan UNHCR karena mereka tidak bisa dipulangkan ke Myanmar.

Bahkan, akhir Mei 2026 lalu, sebuah kapal Rohingya juga sempat tenggelam di dekat perairan Indonesia, menewaskan 11 orang dan membuat puluhan lainnya hilang, insiden yang menunjukkan risiko pelayaran ini juga menyentuh perairan yang berbatasan langsung dengan wilayah Indonesia.

Dengan kata lain, setiap kali kapal Rohingya tenggelam di lautan Asia Tenggara, ada kemungkinan nyata sebagian penumpangnya sebenarnya sedang menuju perairan Indonesia, tempat sebagian dari mereka berharap menemukan keselamatan.




Editor : Meitika Candra Lantiva
Laut Myanma Organisasi Internasional untuk Migrasi UNHCR etnis rohingya rohingya