VYBORGSKIY, RUSSIA – Di tengah hembusan angin Baltik yang menusuk tulang dan gemericik hutan pinus kawasan konservasi, sejarah baru diplomasi kepemudaan tercatat.
PERMIRA Summer Camp 2026, yang berlangsung 19-21 Juli lalu di Semenanjung Kiperort, Kawasan Konservasi Alam Vyborgskiy, Leningrad, berhasil mempertemukan 60 pemuda dari Indonesia, Rusia, dan negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Kamboja, serta Myanmar.
Perkemahan musim panas ini bukan sekadar rekreasi. Ia adalah perayaan simbolis 76 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia dan 35 tahun kemitraan ASEAN-Rusia yang dikemas lewat pendekatan unik: gastrodiplomasi.
Mengusung tema "Kuliner Nusantara: Pelajaran dari Alam dan Persahabatan Bangsa-Bangsa", acara ini sengaja digelar di alam terbuka, menjauh dari ruang rapat formal, dan menggantinya dengan kehangatan api unggun serta aroma rempah yang menyatu dengan dedaunan taiga.
Baca Juga: Lima Kalurahan di Kulon Progo Mengalami Kekeringan, Dapat Jatah Droping Air Bersih dari BPBD
Pembukaan acara berlangsung khidmat dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Federasi Rusia, dipandu oleh mahasiswa dari kedua negara. Dukungan penuh datang dari Kedutaan Besar RI di Moskow dan Pemerintah Oblast Leningrad, menandakan bahwa kegiatan akar rumput ini selaras dengan hubungan bilateral yang telah mencapai tataran strategis.
Duta Besar RI untuk Rusia, Jose Antonio Morato Tavares, dalam sambutan videonya menyebut perkemahan ini sebagai wujud nyata diplomasi budaya dan penguatan persahabatan generasi muda.
Hari pertama didedikasikan untuk "Pelajaran dari Alam". Peserta menjelajahi keanekaragaman hayati hutan taiga, mempelajari sejarah geologi kawasan pasca pencairan es, serta mengikuti masterclass kerajinan dari bahan alami yang hasilnya akan disumbangkan ke panti asuhan.
Tak ketinggalan, malam pertama diakhiri dengan nonton bareng final Piala Dunia sepak bola, menambah keakraban di tengah dinginnya Teluk Finlandia.
Puncak acara, "PERMIRA MasterChef", menjadi sorotan utama pada hari kedua. Di sinilah kreativitas kuliner fusion Indonesia-Rusia diuji. Bayangkan, Ayam Goreng Lalapan berpadu dengan smetana (krim asam) ala Rusia, Sate Taichan yang dimarinasi dengan sentuhan lokal sehingga mirip shashlik, atau Bubur Ayam yang diperkaya dengan dill dan peterseli khas sup Rusia.
Begitu pula Cekodok dan Dadar Gulung yang berhasil memikat lidah peserta dengan tekstur yang mengingatkan pada ponchiki dan blini khas Rusia.
Perpaduan ini membuktikan bahwa kuliner adalah bahasa universal yang mampu menyatukan dua budaya di satu meja makan.
Selain memasak, peserta juga diajak bermain Batewah, permainan tradisional dari Kalimantan Selatan yang menguji konsentrasi, serta menikmati malam keakraban dengan permainan masa kecil anak Indonesia seperti Polisi Numpang Tanya dan Domikado di sekitar api unggun.
Baca Juga: Cokelat Rasa Rendang dan Wedang Uwuh, Inovasi Kuliner Nusantara yang Bikin Penasaran Hadir di Sleman
Suasana kian hangat dengan sesi sauna khas Rusia, Banya, yang menjadi penutup sempurna hari kedua.
Hari ketiga diisi dengan dialog bersama inspektur kawasan konservasi dan program "Kapsul Waktu", di mana para peserta meninggalkan pesan intim yang akan dikirim kepada peserta PERMIRA Winter Camp 2027 mendatang.
Penutupan acara menjadi momen haru dengan pengumuman tim terbaik. Tim "Nasi Goreng" keluar sebagai juara pertama, disusul "Soto Kudus" dan "Ayam Pop".
Sementara itu, Riskafiani dari Indonesia, Varvara Omelchenko dari Rusia, dan Piseth Nhim dari Kamboja dinobatkan sebagai peserta teraktif.
Para peserta pun meninggalkan kesan mendalam. Elizaveta Shurina, mahasiswi MGIMO asal Rusia, mengaku perkemahan ini menjadi ujian nyata ketahanan jiwa. "Kami benar-benar menyatu dengan alam," ujarnya.
Sementara Aldo Ovriawan dari Indonesia merasa kegiatan ini melampaui ekspektasi, memberinya cara pandang baru tentang arti kebersamaan dan kolaborasi.
Ketua Panitia, Alfini Riswika, menyampaikan rasa syukur.
"Summer Camp 2026 membuktikan bahwa kuliner Nusantara dan kebersamaan di alam terbuka mampu menjadi jembatan yang ampuh menyatukan pemuda Indonesia, Rusia, dan ASEAN," tuturnya.
Harapannya, energi positif ini akan terus berlanjut dan menjadi fondasi kolaborasi pemuda ketiga kawasan di masa depan. (iwa)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja