Kemarau Ekstrem, Kekeringan Meluas, Ancaman Ganda Mengintai Indonesia: El Niño Super Kuat dan IOD Positif Resmi "Combo"

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 12:17 WIB
Fenomena El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) Positif. Keduanya kini berlangsung bersamaan.
Fenomena El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) Positif. Keduanya kini berlangsung bersamaan.

 JAKARTA - Bayangkan Indonesia sedang berada di antara dua kipas angin raksasa yang menyedot semua awan hujan dari dua arah sekaligus. Bukan kipas angin di rumah, melainkan dua fenomena iklim dahsyat yang kini tengah "combo" dan mengancam negeri ini.

Fenomena itu adalah El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) Positif. Keduanya kini berlangsung bersamaan, menciptakan ancaman ganda yang diprediksi akan memicu kemarau lebih ekstrem, kekeringan meluas, serta risiko kebakaran hutan dan lahan yang semakin tinggi.

Sederhananya, IOD adalah fenomena naik-turunnya suhu permukaan air di Samudra Hindia yang terbentang dari pantai timur Afrika hingga perairan Indonesia. Kata "Dipole" berarti dua kutub—barat dan timur. IOD Positif terjadi ketika suhu air di Samudra Hindia bagian barat (dekat Afrika) lebih hangat, sementara bagian timur (dekat Indonesia) justru lebih dingin.

Akibatnya, awan hujan terbentuk di perairan hangat Afrika, sementara Indonesia? Wasalam, sudah garing kriuk kress. Kemarau menjadi lebih kering, kekeringan semakin meluas.

Baca Juga: PIONIR Gadjah Mada 2026 Resmi Dimulai Senin 3 Agustus 2026, Ribuan Mahasiswa Baru Disambut Lewat Upacara hingga Kolaborasi Seni Nusantara

Sementara itu, El Niño yang terjadi di Samudra Pasifik bekerja dengan cara serupa—menyedot awan hujan menjauh dari Indonesia. Ketika El Niño dan IOD Positif datang bersamaan, efeknya berlipat ganda. Indonesia diserang dari dua sisi: barat dan timur. Awan hujan habis tak bersisa. Dampaknya? Kemarau ekstrem, kekeringan parah, dan kebakaran hutan yang semakin masif—seperti yang pernah terjadi pada 1997 dan 2019.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa El Niño akan terus menguat sepanjang Agustus hingga Oktober 2026. Suhu permukaan laut di Pasifik tengah-timur diprediksi melampaui 2,9 derajat Celsius, masuk kategori kuat. Bahkan, penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature menyebut El Niño 2026-2027 diprediksi akan menjadi yang terkuat dalam 150 tahun terakhir—satu setengah abad terakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Niño akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027. Puncak musim kemarau 2026 diprakirakan dominan terjadi pada Agustus dan September, dengan 437 Zona Musim mengalami durasi kemarau lebih panjang dari biasanya.

Ancaman ini bukan sekadar proyeksi. Hingga akhir Juli 2026, BMKG mencatat telah muncul 4.900 titik panas di berbagai wilayah Indonesia—indikasi tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan. Sebanyak 55 kabupaten di empat provinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta) telah resmi menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan.

Baca Juga: Peringati 76 Tahun Hubungan RI-Rusia dan 35 Tahun ASEAN-Rusia, Gelar PERMIRA Summer Camp 2026, Saat Nasi Tumpeng Berpadu dengan Taiga di Ujung Finlandia

Palang Merah Indonesia (PMI) bahkan telah memulai operasi distribusi air bersih di sembilan kabupaten. Wilayah dengan risiko tertinggi mencakup Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Lampung, dan Sulawesi Selatan.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menegaskan bahwa iklim telah memasuki fase krisis yang semakin cepat. "El Niño bukan sekadar berada di depan mata, fenomena ini sudah masuk ke dalam rumah dan meningkatkan suhu," ujarnya.

BMKG pun telah memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca di berbagai wilayah rawan, seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Riau. Sinergi lintas instansi—BNPB, TNI-Polri, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Lingkungan Hidup—terus dioptimalkan untuk memadamkan kebakaran dan mitigasi kekeringan.

Menghadapi ancaman ganda ini, langkah paling penting adalah bersiap sejak sekarang. Masyarakat diimbau menghemat air, mewaspadai potensi kebakaran, dan mengikuti informasi resmi dari BMKG serta pemerintah daerah. Pemerintah pun didorong memperkuat sistem peringatan dini dan perlindungan bagi warga yang paling rentan terdampak.

Baca Juga: Lima Kalurahan di Kulon Progo Mengalami  Kekeringan, Dapat Jatah Droping Air Bersih dari BPBD 

Saat dua fenomena raksasa ini bersatu, kewaspadaan kolektif adalah benteng terakhir kita. Jangan tunggu hingga keran kering dan asap membubung—bersiaplah dari sekarang.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
El Nino IOD Positif Kemarau Ekstrem indonesia siaga perubahan iklim