Penulis sekaligus mantan politikus Jepang, Kotoe Hashimoto, mendadak menjadi sorotan publik dan viral di media sosial. Hal ini terjadi setelah ia mengumumkan kelahiran anak ketujuhnya di tengah ancaman krisis angka kelahiran yang membayangi Negeri Sakura tersebut.
Melalui unggahan di media sosial X dan Facebook pada 29 Agustus lalu, Hashimoto menyampaikan kabar bahagia terkait persalinan anak ketujuhnya.
Dalam unggahannya yang disertai foto dirinya tengah menggendong si buah hati, ia turut menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada tim medis yang telah membantu proses persalinannya.
Unggahan hangat tersebut langsung menyedot perhatian netizen hingga ditonton sebanyak 27 juta kali di platform X serta mengumpulkan lebih dari 10.800 tanda suka di Facebook.
"Saya percaya sekarang adalah saatnya bagi perempuan Jepang untuk memiliki anak. Naik turunnya bangsa kita bergantung pada peran aktif perempuan," ungkap Hashimoto, seperti dikutip dari The Straits Times.
Baca Juga: Bukan Cuma Fangirl! Fanboy TWICE Banjiri Konser, “What is Love?” Bikin Arena Menggelegar
Pernyataan bernada ajakan tersebut memicu beragam reaksi dan ruang diskusi dari warganet Jepang. Salah satunya datang dari pengguna X dengan akun @chiyang1972.
Ia menilai Hashimoto sebagai contoh dan wujud ideal bagi seluruh wanita Jepang.
"Ini adalah contoh hidup, norma, panutan, dan wujud ideal bagi wanita Jepang. Saya berharap semua wanita Jepang yang memutuskan untuk tidak menikah, dan semua wanita yang memutuskan untuk tidak memiliki anak, meneladani (mengikuti) ini. Selamat sekali. Semoga ibu dan anak berbahagia," balasannya.
Kotoe Hashimoto sendiri bukan sosok baru di panggung publik Jepang. Ia pernah bertarung sebagai kandidat anggota parlemen dari Partai Harapan (Party of Hope) pada pemilu 2017 silam, meski akhirnya tidak terpilih.
Partai berhaluan konservatif yang didirikan oleh Gubernur Tokyo Yuriko Koike tersebut pada akhirnya dibubarkan pada Oktober 2021.
Hingga kini, Hashimoto aktif memanfaatkan jejaring media sosial miliknya untuk menyuarakan isu tantangan demografi Jepang sekaligus mendorong para perempuan di negaranya agar tidak ragu memiliki lebih banyak anak.
Editor : Bahana.