Asian Games 2026 di Jepang Disorot, Pelayanan dan Fasilitas Atlet Dituding Jadi yang Terburuk

As Syifa Dzihni Nafisa • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 14:14 WIB
Atlet Asian Games 2026 dari berbagai negara tidak mendapatkan akomodasi yang layak dari penyelenggara. (Sumber: X.com/@TheKhelIndia )
Atlet Asian Games 2026 dari berbagai negara tidak mendapatkan akomodasi yang layak dari penyelenggara. (Sumber: X.com/@TheKhelIndia )

 

RADAR MALIOBORO -  Ajang olahraga terbesar di Asia, Asian Games 2026 yang diselenggarakan di Jepang, menuai gelombang kontroversi.

Di tengah semangat kompetisi yang membara, ajang ini justru disorot tajam setelah sejumlah atlet dan delegasi mengeluhkan buruknya pelayanan serta fasilitas yang disediakan oleh panitia penyelenggara.

Alih-alih membangun perkampungan atlet (Athlete Village) khusus, penyelenggara memilih mengandalkan kombinasi hotel, kabin kayu, hingga menyewa kapal pesiar mewah asal Italia, Costa Serena, sebagai tempat tinggal para atlet sehari-hari selama perlombaan berlangsung.

Baca Juga: Menko Polkam Tekankan Strategi Terukur Atasi Karhutla, Sumsel Jadi Atensi

Kendati demikian, fasilitas ini justru memicu kekecewaan masif.

Sejumlah atlet membagikan kondisi kamar yang dinilai tidak layak dan menyerupai kontainer pengiriman barang.

Kasur dinilai terlalu pendek bagi atlet berpostur tinggi di atas dua meter, sehingga mereka kesulitan meluruskan kaki dengan nyaman.

Akibat kurangnya kamar di kapal pesiar, sejumlah delegasi terpaksa dipindahkan ke hotel terpisah dan Airbnb.

Bahkan, panitia sempat dilaporkan mencampur penempatan kamar atlet putra dan putri.

Selain itu, terdapat laporan mengenai fasilitas kamar mandi, seperti wastafel yang mengalami kebocoran hingga membasahi lantai kabin.

Baca Juga: Kenapa Nasi Padang Selalu Jadi Jawaban Saat Bingung Makan Siang?

Masalah tidak hanya berhenti pada tempat tinggal. Sejumlah kekurangan lain terus terungkap seiring berjalannya turnamen.

Seorang atlet asal Thailand mengeluhkan menu makanan yang dinilai sangat minim dan kurang bervariasi.

Para atlet juga tidak diperbolehkan mengambil makanan sendiri; seluruh porsi disajikan langsung oleh staf tanpa opsi tambah (refill).

Kondisi ini membuat para atlet kelaparan hingga terpaksa mencari makanan secara mandiri di restoran luar.

Di sisi lain, akun X (sebelumnya Twitter) @TheKhelIndia mengunggah video yang memperlihatkan para atlet dari berbagai negara, termasuk India, Vietnam, China, Korea Selatan, dan Thailand, terpaksa menunggu lebih dari 14 jam untuk mendapatkan akomodasi setibanya di Nagoya.

Baca Juga: NTT Sabet Dua Juara 1 Kemendagri, Bawa Pulang Insentif Rp4 Miliar

Dalam video yang telah ditonton lebih dari 2 juta kali tersebut, para atlet tampak kelelahan dan terpaksa tidur di atas kursi dan di lantai setelah menempuh perjalanan jauh.

Masalah logistik juga merembet ke urusan transportasi dan administrasi.

Tim nasional Korea Selatan sempat mengalami insiden salah arah, di mana bus tim justru dibawa ke lapangan bisbol alih-alih Stadion Rugby Mizuho, yang berujung pada keterlambatan sesi pemulihan (recovery session) selama satu jam.

Situasi yang lebih mengkhawatirkan dialami oleh kontingen India.

Berdasarkan laporan, hanya tiga dari 22 atlet putra yang tercatat memiliki akomodasi resmi atas nama mereka.

Baca Juga: Cuaca Panas Bikin Badan Lemas? Bisa Jadi Tubuh Mulai Kekurangan Cairan

Selain itu, tiga dari lima pendayung putri tidak terdaftar pada panitia penyelenggara meskipun telah memiliki akreditasi sah, dan sejumlah hotel alokasi mereka dialihkan ke pihak lain.

Masalah administratif ini bahkan dialami oleh pelatih kepala cabang olahraga tembak pistol India, Samaresh Jung, yang sempat tertahan masuk ke arena pertandingan akibat masalah akreditasi.

Di tengah carut-marut fasilitas, para atlet kini juga harus menghadapi ancaman alam.

Badai Tropis Dujuan dilaporkan bergerak ke arah barat laut menuju Jepang tengah dengan kecepatan angin maksimum mencapai 90 km/jam dan hembusan hingga 126 km/jam.

Baca Juga: Viral! Kakek 63 Tahun Lakukan Olahraga Sederhana: Latihan Otot Inti, Mendorong Baskom di Tepi Sungai

Badai tersebut diperkirakan mendekati wilayah pelabuhan Nagoya, tempat kapal pesiar Costa Serena berlabuh, dan berpotensi memengaruhi sekitar 4.000 atlet serta official di dalamnya.

Sejumlah ratusan atlet bahkan terpaksa mengungsi dari akomodasi mereka, sementara beberapa jadwal kompetisi terpaksa ditunda atau diubah.

Berbagai rentetan masalah ini memicu kemarahan luas dari warganet global.

Publik mengecam perlakuan yang dinilai tidak adil bagi para atlet yang berjuang mengharumkan nama negara, sekaligus mendesak panitia penyelenggara agar segera memberikan perbaikan fasilitas yang layak. 

Editor : Meitika Candra Lantiva
Asian Games 2026 di Jepang Pelayanan dan Fasilitas Atlet gelombang kontroversi Stadion Rugby Mizuho akomodasi