Tawarkan Pembukaan Selat Hormuz dalam 7 Hari, Iran Ajukan Syarat Ketat ke Amerika Serikat

As Syifa Dzihni Nafisa • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 17:40 WIB
Kapal pengangkut yang lewat di Selat Hormuz. (Sumber: Pexels)
Kapal pengangkut yang lewat di Selat Hormuz. (Sumber: Pexels)

 

RADAR MALIOBORO - Iran dilaporkan telah mengajukan penawaran untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dalam kurun waktu tujuh hari.

Selain membuka selat strategis tersebut, Teheran juga menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan perundingan program nuklir bersama Amerika Serikat (AS).

Meski demikian, terdapat beberapa syarat krusial yang harus dipenuhi oleh pihak Washington.

Syarat-syarat tersebut meliputi penghentian blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran, pencabutan sanksi atas penjualan minyak Iran, hingga pemberlakuan gencatan senjata yang turut mencakup wilayah Lebanon.

Baca Juga: Dua Puluh Satu Desa Binaan Imigrasi DIY Jadi Garda Depan Cegah TPPO

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi kabar ini di hadapan awak media di luar Gedung Dewan Keamanan PBB, New York, pada Jumat (25/9/2026).

Proposal ini disampaikan kepada Washington melalui pihak mediator di sela-sela agenda Sidang Umum PBB.

Langkah ini disebut-sebut menyerupai kesepakatan sementara yang sempat dirancang oleh kedua negara pada Juni lalu, tetapi kali ini Iran menawarkan durasi eksekusi yang jauh lebih cepat.

Araghchi menegaskan bahwa tenggat waktu satu minggu tersebut akan langsung berjalan begitu proposal disetujui.

"Tujuh hari akan dimulai segera setelah Amerika Serikat menerima rencana ini," kata Araghchi.

Baca Juga: “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” Siap Tayang November 2026, Poster Karater Resmi Dirilis

Ia menerangkan bahwa tahap awal proses ini memerlukan waktu sekitar empat sampai lima hari.

Memasuki hari keenam, Selat Hormuz baru akan dibuka kembali secara resmi.

Selanjutnya pada hari ketujuh, delegasi Iran dan AS direncanakan kembali duduk bersama guna merundingkan kesepakatan akhir atas berbagai isu yang disepakati, termasuk mengenai program nuklir Iran.

Penutupan Selat Hormuz dimanfaatkan Iran sebagai posisi tawar diplomasi mengingat jalur vital ini menyalurkan seperlima pasokan energi dunia dan gangguan di wilayah tersebut berdampak signifikan terhadap ekonomi global.

Sementara itu, Gedung Putih belum memutuskan apakah Presiden Donald Trump akan menerima proposal ini, dan pihak AS sejauh ini hanya menyatakan tengah berdiskusi secara positif bersama para mediator. 

Editor : Meitika Candra Lantiva
Pembukaan Selat Hormuz perundingan program nuklir blokade laut amerika serikat iran