RADAR MALIOBORO – Seekor hiu berukuran sekitar 3,5 meter mendadak menjadi perhatian warga Busan, Korea Selatan. Hewan laut tersebut ditemukan terjebak di kanal kawasan North Port Waterfront Park sejak 18 September 2026.
Hiu itu terlihat terus berenang di jalur air yang menghubungkan kawasan pelabuhan dengan laut terbuka. Kemunculannya di lokasi yang tidak biasa membuat warga penasaran. Tak sedikit masyarakat yang kemudian datang ke kawasan tersebut untuk menyaksikan langsung keberadaan predator laut itu.
Popularitasnya bahkan membuat hiu tersebut memperoleh julukan “Bukangi”. Nama itu berasal dari kata “Bukhang” yang berarti North Port, kemudian dipadukan dengan akhiran yang lazim digunakan dalam pemberian nama panggilan di Korea Selatan.
Dari sekadar hewan laut yang tersesat, Bukangi berkembang menjadi fenomena lokal. Namanya ramai diperbincangkan di media sosial, sementara meme hingga gambar hasil kreasi digital yang menampilkan sosok hiu tersebut turut bermunculan.
Baca Juga: Sudah Punya Pasangan tapi Masih Merasa Kosong? Makna The Cure Lagu Olivia Rodrigo Bikin Gen Z Relate
Antusiasme masyarakat semakin tinggi selama masa libur Chuseok. Pemerintah Busan mencatat sekitar 483.000 orang mendatangi waterfront park dalam empat hari periode liburan tersebut.
Jumlah itu melonjak hingga puluhan kali lipat dibandingkan tingkat kunjungan pada hari biasa. Kepadatan pengunjung bahkan berdampak pada arus lalu lintas di sekitar lokasi.
Pemerintah setempat kemudian mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan transportasi umum. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi kepadatan kendaraan akibat tingginya jumlah orang yang ingin melihat Bukangi.
Sebelum menjadi tontonan warga, petugas sebenarnya telah berupaya mengembalikan hiu tersebut ke laut terbuka. Kapal dan semprotan air sempat digunakan untuk mengarahkan pergerakannya menuju perairan yang lebih luas.
Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Petugas akhirnya memilih melakukan pemantauan daripada menggunakan tindakan yang lebih agresif.
Baca Juga: Waspada Investasi Bodong, Kulon Progo Bekali Warga dengan Literasi Pasar Modal
Kondisi kanal yang relatif sempit membuat proses evakuasi harus dilakukan secara hati-hati. Tindakan yang terlalu keras dikhawatirkan dapat melukai hiu sekaligus membahayakan masyarakat maupun petugas di sekitar lokasi.
Pemerintah Busan kemudian menyiapkan metode penyelamatan menggunakan jaring khusus yang disesuaikan dengan kondisi kanal. Cara tersebut diharapkan dapat memindahkan Bukangi secara aman tanpa menimbulkan risiko tambahan.
Kemunculan hiu tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana predator laut itu bisa masuk dan bertahan cukup lama di kanal.
Salah satu dugaan yang dikemukakan adalah hiu mengikuti pergerakan mangsa menuju perairan yang lebih hangat. Peningkatan suhu laut juga disebut dapat memengaruhi pola pergerakan sejumlah spesies ikan dan predator laut di perairan Korea Selatan.
Meski demikian, penyebab pasti hiu tersebut masuk ke kanal belum dapat dipastikan.
Baca Juga: Wujud Transparansi, Kalurahan Sumberadi Serap Rp 904 Juta Dana Desa, Lolos Uji Kualitas Core Drill
Identitas spesiesnya juga masih menjadi pembahasan. Sejumlah laporan menyebut Bukangi kemungkinan merupakan copper shark atau bronze whaler. Namun, terdapat pula laporan sebelumnya yang mengarah pada kemungkinan spesies lain.
Penentuan spesies secara akurat membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Sebab, beberapa jenis hiu memiliki karakteristik fisik yang cukup mirip, terutama jika identifikasi hanya dilakukan berdasarkan rekaman video atau pengamatan dari jarak jauh.
Di tengah proses penyelamatan, perhatian publik terhadap Bukangi justru semakin besar. Hiu yang awalnya hanya tersesat di kanal kawasan pelabuhan itu kini berubah menjadi daya tarik wisata dadakan.
Ratusan ribu orang datang untuk melihatnya, sementara kisah Bukangi terus menjadi perbincangan di media sosial. Kini, masyarakat Busan menantikan proses penyelamatan berikutnya dan berharap hiu tersebut dapat kembali ke laut dengan selamat.