Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Mengunjungi Tjokrosuharto Arts and Crafts, Punya Koleksi Keris Jadi Jujukan Mencari Pernak-Pernik Jawa

Heru Pratomo • Sabtu, 10 Agustus 2024 | 16:10 WIB
Tjokrosuharto Arts and Crafts
Tjokrosuharto Arts and Crafts

 

RADAR MALIOBORO - Bagi warga Jogja jika ingin mencari pernak-pernik seni dan budaya Jawa, Tjokrosuharto menjadi salah satu rujukannya. Sudah jadi legenda gerai arts and crafts di Yogyakarta.

Berdiri sejak 1930, Tjokrosuharto kini sudah dijalankan oleh generasi ketiga. Pasar mancanegara juga dirambah seiring dengan pemasaran yang dilakukan secara digital.

Tjokrosuharto terletak di Jalan Panembahan, Kraton, Yogyakarta. Lokasinya masuk kawasan Wijilan yang terkenal dengan kuliner gudeg. Tjokrosuharto kini dikelola oleh Rifki Kusumo Harimawan.

Baca Juga: Lagu Bye Bye Bye dari NSYNC Kembali Viral Setelah Dijadikan OST Film Deadpool 3

Baca Juga: Omah Kembang Merbabu: Spot Villa & Resto Tersembunyi dengan Vibes Swiss di Kaki Gunung

"Saya ini generasi ketiga sejak 1993. Orang tua saya sebelumnya mengelola dari tahun 1986. Dan, eyang saya merintis dari tahun 1930," kisah Rifki yang ditemui di gerai Tjokrosuharto Arts and Crafts, Kamis (8/8/2024).

Rifki punya tanggung jawab berat melanjutkan Tjokrosuharto. Bukan sekadar dapat tumbuh dan berkembang, namun diharapkan mampu melestarikan nilai-nilai seni dan budaya Jawa, seperti yang dicita-citakan generasi sebelumnya.

Ini cukup beralasan. Toh ribuan produk yang dijual di Tjokrosuharto adalah pernak-pernik seni dan budaya Jawa.
Dari mulai perlengkapan penrnikahan, labuhan, suronan dan lainnya.

Rifki mengatakan, ada sembilan komoditas unggulan Tjokrosuharto yang hingga masih dipertahankan. Di antaranya adalah kerajinan perak dan logam serta batik tulis.

Baca Juga: Stranger Things 5 Dalam Proses Produksi! Akankah Menjadi Petualangan Terakhir di Hawkins?

Baca Juga: Pantai Punuk Sapi: Keindahan Pesona Alam yang Mampu Menyihir Para Wisatawan, Pantainya Menyerupai Punuk Sapi

Kerajinan perak dan batik ini adalah cikal bakal Tjokrosuharto berdiri. "Eyang kakung saya dulu adalah perajin perak, tinggalnya di Kotagede. Nah, eyang putri saya ini membuat batik, yang dulunya adalah abdi dalem, jadi pemegang payung di masa Sri Sultan HB VIII. Kemudian membuat workshopnya di Panembahan ini," ujar Rifki.

Komoditas lainnya yang dijual adalah keris dan pusaka, pakaian Jawa, baju upacara adat, wayang kulit, gamelan, kerajinan kayu dan tanduk.

Adapun koleksi keris, Tjokrosuharto menjual keris dengan kategori sepuh, duplikat dan aksesoris. Keris sepuh dijual lebih mahal karena termasuk koleksi zaman kerajaan seperti Mataram, Majapahit, dan lainnya. Selain ditempa oleh empu-empu pusaka, keris sepuh memiliki tangguh, dapur dan pamor yang hanya bisa dijumpai zaman kerajaan.

"Eyang dulu suka koleksi keris. Zaman dulu, keris itu dijual besekan. Koleksi keris dan pusaka milik eyang kami simpan terpisah di tempat lain, namun tidak dijual," imbuh Rifki.

Harga keris sangat bervariasi. Paling murah keris aksesoris, hanya seratusan ribu rupiah. Keris duplikat lebih mahal bisa mencapai satu jutaan lebih. Keris sepuh yang masih utuh dan terawat bisa lebih dari Rp 5 juta.

Baca Juga: Bingung Mau Nonton Anime Apa? Ini Dia 7 Masterpiece Studio Ghibli yang Wajib Kamu Tonton

Baca Juga: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Foto Artis Korea Sebagai Profile Picture daripada Fotonya Sendiri? Ini Alasannya

Tjokrosuharto juga identik dengan batik tulisnya. Meski juga menjual batik printing, namun batik tulis Tjokrosuharto memiliki pelanggan dari artis, menteri hingga mantan presiden. "Pak SBY pernah beli, ibu menteri Retno Marsudi, dan beberapa artis. Saya menunggu Pak Prabowo bisa rawuh," ungkap Rifki pernuh harap.

Menurutnya, melestarikan batik tulis agar tidak punah salah satunya dengan membeli dan mengenakannya dalam kegiatan sehari-hari. Menurutnya, apa yang dilakukan tokoh publik dengan berkunjung ke Tjokrosuharto maupun gerai-gerai lainnya, adalah untuk merawat kelangsungan hidup perajin batik tulis, dan mereka yang memasarkannya.

Selama ini, komoditas Tjokrosuharto tidak hanya dikirim ke pasar domestik. Hasil kerajinan Tjokrosuharto juga sudah diekspor ke sejumlah negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Di pasar mancanegara tersebut, batik tulis, pakaian upacara adat, dan pakaian tarian adat paling banyak dipesan konsumen.

Pesanan online tersebut dikirim melalui jasa ekspedisi. Sejak 2009, Tjokrosuharto memilih JNE sebagai mitra pengiriman karena memiliki banyak keunggulan dibanding ekspedisi lainnya. JNE, lanjut Rifki, mempunyai respons kilat menanggapi permintaan pelanggan, serta memberikan solusi jika konsumen mengalami kendala.

 

Editor : Heru Pratomo
#Tjokrosuharto Batik #yogyakarta #keris #Kotagede #sri sultan #kraton #pernak-pernik