Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

KULINER JOGJA : Mengenal Mie Lethek Bantul, Kuliner yang Tetap Eksis di Tengah Modernitas

Iwa Ikhwanudin • Senin, 22 Juli 2024 | 00:43 WIB
Kelezatan Mie Lethek khas Bantul yang menggugah selera para penikmat kuliner.   Instagram.com/mbok.ndoro
Kelezatan Mie Lethek khas Bantul yang menggugah selera para penikmat kuliner. Instagram.com/mbok.ndoro

RADAR MALIOBORO – Jogja, sebuah kota wisata yang memiliki tempat tersendiri di hati para wisatawan. Dengan berbagai macam wisatanya, tak heran jika kota ini selalu dijadikan tempat tujuan untuk berlibur. 

Selain kaya akan destinasi wisata, Jogja juga memiliki banyak wisata kuliner yang wajib dicoba. Adapun salah satu kuliner legendaris yang bertahan hingga kini adalah Mie Lethek.  

Di era gempuran makanan modern yang makin mendominasi, Mie Lethek ternyata masih banyak di gemari masyarakat lokal maupun wisatawan luar. Kuliner khas ini berasal dari daerah Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Istilah “Lethek” sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang artinya kusam atau kotor. Warna dari Mie Lethek pun berbeda. Mie ini memiliki warna keabuan dan tidak seperti warna mie pada umumnya. 

Sejarah Mie Lethek dimulai dari tahun 1920-an. Pada tahun tersebut, perusahan Mie didirikan oleh seseorang dari Timur Tengah yang Bernama Umar. 

Pembangunan perusahaan bermula dari bentuk rasa prihatin pada kondisi pangan masyarakat yang terlampau tinggi. 

Bahan baku dari Mie Lethek adalah tepung singkong dan singkong kering atau biasa disebut “gaplek”. 

Pabrik Mie Lethek dulunya dibangun menggunakan kayu jati. Bangunan ini berbentuk pendopo dan berstatus menjadi sebuah pabrik dan tempat tinggal di kala itu.  

Kemudian dari tahun ke tahun, muncul pabik-pabrik Mie Lethek yang sampai sekarang masih beroperasi. 

Keunikan dari kuliner satu ini berada pada proses pengolahannya yang tergolong masih tradisional. 

Dengan menggunakan alat penggiling tradisional yang berbentuk selinder besar sebagai tempat olahnya dan untuk proses gilingannya ditarik seekor sapi. 

Selanjutnya mie akan dikukus di atas tungku. Setelah melalui proses pengukusan yang lama, mie terus dicetak dan dijemur sampai kering. Hasil akhirnya akan seperti mie bihun berukuran tebal dan berwarna cokelat. 

Seiring perkembangan teknologi modern, banyak juga yang sudah menggunakan peralatan canggih untuk membuat mie ini. Hal ini tentunya meminimalisir tenaga manusia.  

Mie Lethek merupakan mie yang tergolong sehat dan alami. Cita rasa dari teksturnya lebih kenyal daripada mie biasa. 

Dengan olahan bahan sehat dan tanpa pengawet, Mie Lethek juga dapat digunakan sebagai alternatif diet. Kandungan gluten yang rendah di dalam mie, membuat makanan Mie Lethek baik untuk di konsumsi tubuh kita. 

Mie Lethek termasuk warisan leluhur yang tak lekang oleh waktu. Tahun 2019, Mie Lethek ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) dengan nomor registrasi 20190951. 

Di era sekarang, banyak kuliner tradisional jaman dulu yang mulai menurun penikmatnya. Hal ini sudah tergantikan dengan junk food atau kuliner-kuliner hitz yang lagi viral. 

Namun faktanya, Mie Lethek yang berstatus sebagai kuliner tradisional ternyata masih bisa mempertahankan eksistensinya sampai saat ini.  

Penulis : Razmarita Dyasprinasti

Editor : Iwa Ikhwanudin
#bantul #kuliner #mie legendaris