RADAR MALIOBORO - Masyarakat Indonesia pasti sudah akrab dengan Indomie, salah satu merek mie instan yang sangat populer, bahkan hingga ke luar negeri.
Dengan banyaknya penggemar, Indomie sering kali diolah dengan berbagai resep unik.
Salah satu variasi yang menarik perhatian dan tengah viral di media sosial saat ini adalah Mie Bangladesh, sebuah olahan mie khas Medan yang menawarkan cita rasa kuat dengan bumbu yang "medok".
Mie Bangladesh sebenarnya bukan berasal dari Bangladesh, melainkan dari Medan, Sumatera Utara.
Nama "Mie Bangladesh" sendiri merujuk pada sebuah warung di Lhokseumawe, Aceh, Sumatera Selatan, tempat hidangan ini pertama kali dikenal.
Meski demikian, kreasi mie ini dengan cepat menjadi favorit di Medan.
Mie Bangladesh: Indomie dengan Sentuhan Khas
Mie Bangladesh pada dasarnya adalah Indomie goreng yang diolah dengan cara unik. Proses memasaknya melibatkan bumbu-bumbu asli dari Indomie yang kemudian diperkaya dengan racikan bumbu khas.
Bumbu-bumbu ini dimasak hingga meresap sempurna ke dalam mie, menciptakan sensasi rasa yang lebih kuat dan pekat, mirip dengan mie nyemek pada umumnya.
Tak lupa, hidangan ini biasanya disajikan dengan tambahan telur rebus setengah matang di atasnya.
Telur ini memberikan tekstur creamy yang khas dan semakin memperkuat rasa "medok" dari bumbu mie tersebut.
Viral di Media Sosial
Kepopuleran Mie Bangladesh mulai merebak dari media sosial. Banyak masyarakat yang mencicipi mie ini kemudian membagikan pengalamannya di platform seperti Instagram dan TikTok.
Dari situlah, Mie Bangladesh mulai dikenal luas, hingga menjadi tren di kalangan pecinta mie.
Tak sedikit pula orang yang mencoba membuat Mie Bangladesh versi mereka sendiri di rumah.
Dengan racikan bumbu yang sederhana namun kaya rasa, Mie Bangladesh berhasil menarik perhatian banyak orang, membuatnya menjadi salah satu olahan Indomie yang patut dicoba.
Mie Bangladesh bukan hanya sebuah kreasi mie instan biasa, tetapi sebuah inovasi kuliner yang memadukan kesederhanaan dengan kekayaan rempah, menjadikannya favorit baru di Medan dan sekitarnya. (Putri Gesa Yanuarizki)
Editor : Winda Atika Ira Puspita