RADAR MALIOBORO - Kata "omakase" dalam bahasa Jepang memiliki arti "saya serahkan pada Anda".
Dalam dunia kuliner, konsep ini berarti memberikan kepercayaan penuh kepada chef untuk menyajikan hidangan terbaik sesuai keahliannya.
Ini menjadi pengalaman menikmati makanan yang sangat personal dan menantang kreativitas chef.
Menurut informasi dari Kaito Sushi, konsep omakase mulai dikenal sejak pertengahan abad ke-20.
Pada tahun 1920-an dan 1930-an, banyak restoran sushi di Tokyo mulai mengadopsi metode ini.
Alih-alih memesan satu per satu, para pengunjung hanya memberikan uang mereka dan chef akan menyajikan hidangan yang dimasak dari bahan-bahan segar.
Menurut Britannica, omakase juga muncul untuk memenuhi keinginan pelanggan kaya baru di Jepang yang kurang familiar dengan hidangan sushi.
Dengan menyerahkan sepenuhnya pilihan menu kepada chef, mereka dapat menikmati pengalaman menikmati makanan tanpa khawatir terhadap pilihan menu yang dipesan.
Dalam sesi omakase, chef biasanya akan berinteraksi langsung dengan pengunjung dengan menanyakan preferensi mereka untuk menciptakan pengalaman yang lebih personal dan menyenangkan.
Chef juga sering memamerkan keterampilan dan kreativitasnya dalam mengolah hidangan di depan para pengunjung.
Pada dekade 1960-an dan 1970-an, omakase berkembang pesat.
Tidak hanya terbatas pada sushi, konsep ini meluas ke berbagai jenis hidangan di restoran-restoran Jepang.
Karena menekankan pada kreasi terbaik dari chef, omakase sering kali identik dengan harga yang cukup mahal.
Untuk menikmati pengalaman omakase, para pengunjung harus menyiapkan biaya sekitar Rp3 juta hingga Rp12,3 juta.
Selain itu, ada beberapa restoran omakase tidak mencantumkan menu atau harga dasar dengan beberapa menawarkan pilihan hidangan opsional yang dikenakan biaya tambahan.
Contoh Hidangan Omakase
Restoran omakase biasanya menyajikan berbagai hidangan spesial, antara lain:
1. Zensai (Menu Pembuka): Menu pembuka ringan seperti salad atau sashimi yang mengundang selera makan untuk hidangan berikutnya.
2. Assortment Sushi: Berbagai sushi berkualitas tinggi seperti tuna, salmon, ebi, dan unagi yang disesuaikan dengan bahan-bahan sesuai musim.
3. Sashimi Plate: Irisan tipis ikan segar tanpa nasi yang akan menonjolkan kemurnian rasa ikan.
4. Tempura: Gorengan renyah berbahan dasar udang, sayuran, atau ikan.
5. Suimono (Sup): Sup ringan yang disajikan sebagai hidangan penutup untuk menyeimbangkan rasa setelah hidangan utama.
6. Dessert: Hidangan penutup seperti es krim teh hijau, mochi, atau puding khas Jepang.
Lebih dari sekadar bersantap, omakase adalah bentuk seni yang memadukan keahlian memasak dan menarik perhatian pengunjung.
Dengan menyerahkan pilihan kepada chef, pengunjung dapat menikmati setiap sajian dengan merasakan kekayaan rasa kuliner Jepang yang autentik.
Konsep omakase yang awalnya terbatas pada restoran sushi mewah kini telah menyebar ke berbagai jenis restoran di seluruh dunia.
Di Jepang sendiri, omakase juga diterapkan di luar dunia kuliner seperti pada salon di mana pelanggan dapat menyerahkan sepenuhnya gaya rambut mereka kepada penata.
Ini menunjukkan fleksibilitas dan keunikan konsep ini dalam berbagai bidang. (Fedora Reyvi Apta Nayottama)
Editor : Meitika Candra Lantiva