RADAR MALIOBORO - Hewan-hewan yang dianggap tidak lazim untuk dijadikan makanan, seperti anjing dan kucing, masih dikonsumsi di negara-negara seperti Korea, Tiongkok, Vietnam, dan beberapa wilayah di Asia.
Meskipun hanya minoritas saja masyarakat di negara tersebut yang mengonsumsinya, kegiatan ini tetap saja dianggap sebagai tindakan kontroversial dan bahkan dilarang hingga saat ini.
Akan tetapi di Indonesia sendiri terdapat salah satu wilayah yang memiliki hidangan yang cukup unik dan ekstrem, yaitu paniki yang berasal dari Manado, Sulawesi Utara.
Kuliner ini adalah makanan yang berbahan dari kelelawar atau kalong, yaang dipadukan dengan bumbu-bumbu khas Sulawesi Utara.
Paniki ini bukan hanya sebagai hidangan lokal saja, tetapi juga mencerminkan warisan budaya dan tradisi kuliner yang khas yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta kuliner ekstrem.
Selain itu, menurut sebagian orang kelelawar memiliki beberapa manfaat yang cukup bermanfaat bagi manusia.
Seperti memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, dapat mengurangi masalah kulit akibat alergi dan juga dipercaya mengkonsumsi daging kelelawar dapat menyembuhkan penyakit asma dan sesak napas.
Karena kelelawar mengandung senyawa kitotefin yang hampir mirip dengan obat asma yang digunakan dalam dunia media
Cara pengolahan paniki : Pertama, paniki harus dimasak dengan santan selama sekitar dua jam hingga santan kering dan meresap ke daging.
Setelah dibersihkan dari bulu-bulunya, paniki kemudian dimasak dengan beragam bumbu, dengan bumbu utama kelapa atau santan, bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, daun serai, jahe, dan lainnya.
Ketika paniki dihidangkan, aroma masakan sudah sangat kuat tercium. Saat disantap, rasa pedas khas masakan dari Manado sangat dominan. (Aqi Vaala)
Editor : Meitika Candra Lantiva