RADAR MALIOBORO - Angkringan adalah salah satu ikon kuliner khas Yogyakarta yang telah melekat dengan kehidupan masyarakat.
Dengan gerobak sederhana dan konsep lesehan, angkringan menjadi tempat favorit untuk menikmati makanan murah meriah sambil bercengkerama.
Namun, tahukah kamu bagaimana asal muasal angkringan di Jogja?
Kata “angkringan” berasal dari bahasa Jawa “angkring”, yang berarti "duduk santai" atau "nangkring".
Awal mula konsep warung angkringan sebenarnya bukan berasal dari Yogyakarta, melainkan dari Klaten, Jawa Tengah. Pada awal abad ke-20, seorang perantau dari Klaten bernama Mbah Pairo membawa gerobak sederhana ke Yogyakarta untuk berjualan makanan di malam hari.
Warungnya yang menawarkan nasi kucing, gorengan, dan teh panas dengan harga murah, mendapat sambutan hangat dari masyarakat, terutama kalangan pekerja dan mahasiswa.
Bisnis ini kemudian diteruskan oleh anaknya, Mbah Satinem, yang semakin mengembangkan konsep angkringan dan menjadikannya lebih dikenal di Jogja.
Dari sinilah angkringan mulai berkembang pesat, hingga akhirnya menjadi bagian dari budaya kuliner kota ini.
Meskipun begitu, esensi angkringan sebagai tempat berkumpul dan menikmati makanan murah tetap terjaga.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Yogyakarta, menikmati makan malam di angkringan adalah pengalaman yang wajib dicoba.
(Adinda Tyas; Berbagai Sumber)
Editor : Iwa Ikhwanudin