Minuman berwarna hijau cerah ini memang sedang naik daun, bukan hanya karena tampilannya yang estetik, tapi juga karena reputasinya sebagai pilihan sehat yang tetap nikmat.
Dulu, matcha hanya dikenal sebagai bagian dari budaya teh Jepang.
Tapi sekarang, teh hijau bubuk ini sudah mendunia, merambah ke kafe-kafe hipster di Amerika, Eropa, bahkan Indonesia.
Dengan semakin banyaknya orang yang sadar akan gaya hidup sehat, matcha pun jadi bintang baru di balik menu-menu kekinian.
Lebih dari Sekadar Teh Hijau Biasa
Matcha bukan cuma "teh hijau yang digiling". Ia punya cita rasa khas seperti pahit sedikit, earthy, yang ternyata cocok banget dipadukan dengan manisnya dessert atau susu dalam bentuk matcha latte.
Tapi tahukah kamu, di balik segelas matcha ada sejarah panjang yang sudah berlangsung sejak abad ke-7?
Awalnya, matcha berasal dari Tiongkok pada masa Dinasti Tang. Daun teh dikukus, dikeringkan, lalu dipadatkan agar tahan lama selama perjalanan dagang.
Saat akan diseduh, daun teh dipanggang dan ditumbuk hingga menjadi bubuk halus. Teknik inilah yang kemudian berkembang menjadi matcha.
Namun, yang benar-benar mengangkat matcha ke level budaya adalah Jepang.
Seorang biksu bernama Eisai membawa tradisi minum teh ini ke Jepang, dan sejak saat itu matcha menjadi bagian penting dari upacara minum teh Jepang yang disebut “chanoyu” atau ritual yang menekankan ketenangan dan keharmonisan.
Matcha vs Kopi: Efek Sama, Sensasi Beda
Salah satu alasan matcha semakin populer adalah karena efeknya mirip kopi, meningkatkan energi dan fokus, tetapi tanpa sensasi deg-degan atau sulit tidur.
Cocok banget buat kamu yang sensitif terhadap kafein.
Selain itu, matcha mengandung antioksidan tinggi yang disebut katekin, terutama EGCG, yang dipercaya membantu melawan kanker, menurunkan risiko penyakit jantung, dan mempercepat metabolisme.
Belum lagi manfaat L-Theanine yang membantu mengurangi stres dan mendukung suasana hati yang stabil.
Namun, seperti segala hal, konsumsi matcha juga harus bijak. Kandungan kafeinnya tetap ada, dan jika dikonsumsi berlebihan bisa menyebabkan sakit kepala, gangguan tidur, hingga mengganggu penyerapan zat besi.
Di balik segelas matcha yang kamu nikmati hari ini, ada ribuan tahun sejarah, filosofi ketenangan, dan ilmu alam yang berpadu jadi satu.
Jadi, saat kamu menyeruput matcha latte, ingatlah kamu bukan cuma mengikuti tren, kamu juga sedang menyatu dengan tradisi kuno yang terus hidup hingga hari ini.
Penulis: Abel Alma Putri
Editor : Bahana.