RADAR MALIOBORO - Sebuah makanan tradisional asal Korea Selatan bernama sundae (순대) belakangan kembali menarik perhatian, khususnya dari wisatawan mancanegara, karena bahan pembuatannya yang terbilang ekstrem.
Sundae dibuat dari usus babi yang diisi dengan darah babi, mi ubi jalar, dan berbagai bahan lainnya.
Meski bagi banyak orang terdengar menjijikkan, makanan ini justru sangat populer di Korea dan menjadi salah satu ikon kuliner jalanan.
Alasan Orang Korea Menciptakan Makanan Sundae
Sundae memiliki sejarah panjang sebagai makanan rakyat.
Pertama kali muncul pada masa Dinasti Goryeo, Sundae kala itu disajikan dalam acara-acara besar dan perayaan penting.
Bahan-bahannya pun terbatas, mengingat daging merupakan komoditas mewah.
Namun, seiring berkembangnya zaman dan situasi sosial-ekonomi, masyarakat Korea mulai memanfaatkan bagian-bagian hewan yang tidak lazim dikonsumsi di tempat lain, termasuk usus dan darah, sebagai bagian dari upaya bertahan hidup dan efisiensi dalam pengolahan makanan.
Makanan ini kemudian mengalami transformasi selama masa Perang Korea dan masa pasca-kolonial, di mana bahan-bahan sederhana menjadi tulang punggung dapur rumah tangga.
Usus babi yang sebelumnya dibuang mulai diolah dan diisi dengan campuran mi, darah babi, sayuran, dan rempah-rempah, lalu dikukus.
Dari sinilah bentuk Sundae modern yang dikenal saat ini mulai terbentuk.
Baca Juga: Barbarian Kembali Beraksi! Netflix Umumkan Seri Animasi Game Clash of Clans
Tekstur Sundae Kenyal, Lembut, dan Gurih
Tekstur sundae cenderung kenyal dari usus babinya, namun isiannya terasa lembut dan gurih.
Darah babi yang digunakan memberikan rasa sedikit menyerupai hati atau limpa, namun telah dinetralisir dengan rempah-rempah dan bahan lain, menjadikannya lebih bisa diterima oleh lidah masyarakat lokal.
Rasa ini kemudian dikombinasikan dengan bumbu celup seperti garam, cabai bubuk, atau saus khas tteokbokki yang pedas manis.
Tak jarang, Sundae disajikan dalam bentuk sup bernama sundaeguk, yaitu potongan sundae yang direbus bersama kuah bening dan nasi.
Di Korea Selatan, Sundae dianggap sebagai comfort food dan bisa ditemui dengan mudah di pasar tradisional, pusat jajanan malam, hingga food court modern.
Harganya yang terjangkau dan porsinya yang mengenyangkan menjadikan Sundae pilihan banyak orang, mulai dari pelajar hingga pekerja kantoran.
Beberapa daerah seperti Chuncheon bahkan memiliki varian khas sundae mereka sendiri, menambahkan unsur regionalitas dalam penyajiannya.
Namun, Sundae juga tidak lepas dari kontroversi.
Bagi wisatawan Muslim atau masyarakat dengan pantangan terhadap daging babi, Sundae tergolong haram karena penggunaan usus dan darah babi.
Meskipun ada beberapa restoran yang mencoba menawarkan alternatif halal, seperti menggunakan usus sapi atau mengganti darah dengan bahan lain, varian ini masih sangat terbatas dan belum diadopsi secara luas.
Terlepas dari kandungan bahannya yang tidak biasa bagi sebagian orang, Sundae tetap menjadi simbol kuat dari kreativitas kuliner Korea dalam memanfaatkan bahan seadanya dan menjadikannya makanan yang khas, lezat, dan bersejarah.
Popularitas Sundae sebagai jajanan kaki lima tak menunjukkan tanda akan meredup, justru semakin meningkat seiring dengan minat dunia terhadap budaya Korea. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva