SLEMAN – Di tengah geliat industri kuliner Yogyakarta yang kian dinamis, satu nama hadir dengan semangat redefinisi rasa: Baki Restaurant. Mengusung filosofi "Persembahan dan Penghormatan akan Rasa: Mewarisi Cita dan Merangkai Budaya", restoran ini menghadirkan sajian khas Nusantara dalam tampilan dan rasa yang diperbarui, tanpa mengorbankan keaslian rempah-rempah Indonesia.
Berlokasi di kawasan strategis Jatirejo, Sendangadi, Mlati, Sleman—tak jauh dari jalur utama Palagan—Baki bukan sekadar tempat makan. Ia adalah ruang pengalaman rasa, di mana kuliner tradisional dibingkai dalam kemasan elegan dan fleksibel, menyasar segmen kelas menengah ke atas yang mendambakan sajian berkualitas dengan nuansa budaya yang tetap relevan.
Cita Rasa Otentik, Sentuhan Modern
Konsep yang diusung Baki adalah “Rasa Nusantara Masa Kini”, sebuah pendekatan fusion yang tak hanya memodernkan tampilan hidangan, tetapi juga memperhalus rasa tanpa kehilangan jati diri bumbu Indonesia. Menu seperti Bebek Asap, Wagyu Balado, hingga Udang Taliwang tampil sebagai bintang utama yang merangkul lidah lokal maupun penikmat kuliner global.
"Setiap menu kami adalah bentuk penghormatan kepada tamu dan kepada budaya," ujar Owner Baki Restaurant, Raisya Fredrich Nugroho (Meisye), dalam acara grand opening yang digelar Jumat (17/10/2025).
Tak ketinggalan, deretan minuman khas seperti Jejamuan Kencur, Telang, hingga racikan berbasis rempah lainnya, semakin memperkaya pengalaman bersantap di Baki. Semua diracik sebagai representasi dari kekayaan flora Indonesia yang memiliki cita rasa sekaligus nilai kesehatan.
Baki: Lebih dari Sekadar Resto
Nama “Baki” sendiri diambil dari filosofi budaya Nusantara, di mana baki atau nampan menjadi simbol penghormatan dan persembahan. Restoran ini pun mengadopsi semangat tersebut sebagai wadah yang menampung kekayaan rasa Indonesia, disajikan dalam estetika modern yang mengedepankan kenyamanan dan eksklusivitas.
"Baki hadir sebagai Kuliner Fusion Nusantara terdepan di Yogyakarta yang mengusung inovasi, kualitas premium, serta standar pelayanan tinggi. Visi kami adalah diakui secara nasional maupun internasional,” lanjut Meisye.
Aprio Rabadi, selaku Operational Manager, menambahkan, Baki mengadopsi sistem dua sesi layanan, yaitu Makan Siang (11.00–14.00 WIB) dan Makan Malam (17.00–22.00 WIB) untuk menjaga kesegaran bahan dan kualitas rasa. "Bahan baku langsung kami olah begitu keluar dari penyimpanan, untuk menjaga profil rasa yang maksimal," jelas Aprio.
Dari Asap Bebek hingga Gejrot yang Naik Kelas
Head Chef Yonada menuturkan, sejumlah menu andalan menjadi signature dari dapur Baki. Salah satunya adalah Bebek Asap, yang dagingnya diimpor dari China untuk mendapatkan tekstur khas, lalu dipadukan dengan bumbu lokal agar tetap otentik. Selain itu, hadir pula Tahu Gejrot versi Baki, Sate Marangi, Tuna Bumbu Nusantara, dan Asinan Khas Baki yang menyegarkan.
Baki juga dirancang sebagai venue prestisius, mendukung gaya hidup profesional dan menjadi pilihan lokasi untuk berbagai acara formal hingga semi-formal. Suasana interior yang elegan, pelayanan berkelas, serta konsep menu yang thoughtful menjadikan Baki bukan hanya restoran, melainkan destinasi gaya hidup.
Baki Restaurant membuktikan bahwa kuliner Nusantara tak sekadar warisan, melainkan ruang kreatif yang terus bisa dirayakan, ditata ulang, dan dibanggakan. Dengan pendekatan rasa yang inovatif namun berakar pada budaya, Baki siap menjadi primadona baru kuliner Jogja yang melampaui ekspektasi.
Editor : Heru Pratomo