RADAR MALIOBORO – Warganet mengklaim bahwa “tidak ada serangga yang selamat di Gunungkidul” telah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Ungkapan yang terkesan hiperbolis ini didasari pada realitas unik di Kabupaten Gunungkidul. Pasalnya, konsumsi serangga telah menjadi tradisi kuliner turun-temurun dan sumber protein alternatif.
Masyarakat setempat secara turun-temurun mengolah serangga, khususnya yang muncul musiman, menjadi hidangan yang lezat, gurih, dan bernilai gizi tinggi. Aktivitas berburu serangga ini, yang biasa dilakukan saat senja atau di awal musim penghujan, bukan hanya soal memcari lauk, melainkan juga bagian dari kearifan lokal yang merayakan berkah alam.
Popularitas kuliner ekstrem di Gunungkidul memunculkan beberapa jenis serangga yang menjadi target utama perburuan. Berikut ini daftar serangga yang menjadi buruan para masyarakat Gunungkidul:
1. Walang atau Belalang
Walang atau belalang menjadi serangga paling populer dan menjadi maskot kuliner daerah ini. Belalang yang sering dikonsumsi yaitu belalang kayu, yang digoreng kering hingga renyah dan memiliki rasa mirip udang.
2. Puthul
Puthul sejenis kumbang tanah/Phyllophage helleri yang muncul di awal musim penghujan dan diolah menjadi camilan gurih atau bacem.
3. Ungkrung
Ungkrung atau kepompong ulat jati juga banyak dikonsumsi masyarakat daerah ini berkat kaya akan kandungan proteinnya.
4. Ulat
Biasanya ulat hanya digoreng kering saja dengan bumbu garam dan bawang yang sudah dihaluskan.
Fenomena konsumsi serangga ini bukan didorong oleh keputusasaan, melainkan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam. Serangga-serangga tersebut, seperti Walang, Puthul, Ungkrung, Ulat sering dianggap sebagai hama bagi tanaman pertanian. Dengan mengonsumsinya, masyarakat tidak hanya mendapatkan lauk musiman yang bergizi, tetapi juga sekaligus mengendalikan populasi hama secara alami.
Aktivitas berburu ini pun kini menjadi tren, bahkan ada serangga seperti Walang yang diperjualbelikan dengan harga cukup tinggi, membuktikan bahwa bagi warga Gunungkidul, serangga memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari siklus kehidupan dan identitas kuliner mereka.
(Hanifah Okta Romadhoni)
Editor : Iwa Ikhwanudin