RADAR MALIOBORO - Geplak adalah makanan tradisional khas Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dibuat dari kelapa parut dan gula, baik gula pasir maupun gula jawa. Makanan ini dikenal dengan tampilan warna-warninya yang cerah seperti merah muda, hijau, kuning, dan putih, yang menarik perhatian sebagai oleh-oleh khas Jogja. Bentuk geplak biasanya bulat pipih, dengan tekstur legit dan rasa manis yang khas dari kelapa dan gula. Keunikan rasa dan tampilan ini menjadikan geplak populer, terutama saat musim liburan dan Lebaran, karena mudah ditemukan di sentra oleh-oleh dan pasar tradisional.
Geplak sudah ada sejak abad ke-19, berkembang di tengah melimpahnya perkebunan tebu dan kelapa di wilayah Bantul. Menariknya, pada masa-masa sulit seperti paceklik, geplak pernah menjadi makanan pokok pengganti nasi karena bahan dasarnya yang mudah didapat. Bahkan pada tahun 2018, geplak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sentra produksi geplak masih bertahan hingga kini, seperti di Dusun Piring dan Jonggrangan, dengan berbagai pelaku UMKM yang meneruskan tradisinya.
Proses pembuatan geplak terbilang sederhana: kelapa parut dimasak bersama gula hingga mengental, lalu ditambahkan pewarna atau perasa, kemudian dibentuk bulat dan didinginkan. Inovasi rasa terus dilakukan, seperti tambahan rasa coklat, durian, nangka, atau jahe, tanpa menghilangkan cita rasa khasnya. Tampilan geplak pun semakin menarik, dengan kemasan yang dibuat modern namun tetap mempertahankan nilai tradisional, seperti penggunaan besek (wadah bambu) untuk mempertahankan kesan otentik.
Geplak tidak hanya menjadi simbol kuliner, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Bantul. Dukungan pemerintah daerah dalam bentuk lomba inovasi geplak dan pelatihan UMKM turut menjaga eksistensinya di tengah gempuran makanan modern. Selain sebagai camilan manis, geplak juga mencerminkan semangat adaptasi masyarakat terhadap keterbatasan dan kekayaan alam setempat. Kini, geplak tak hanya menjadi oleh-oleh nostalgia, tetapi juga bagian dari warisan rasa yang patut diapresiasi dan dilestarikan.
(Adessia MIftahullatifah)
Editor : Iwa Ikhwanudin