RADAR MALIOBORO — Tiwul dan gatot, dua makanan tradisional asal Jawa yang sering disebut bersamaan, ternyata memiliki perbedaan cukup mencolok baik dari bahan dasar, proses pembuatan, maupun cita rasa. Meski keduanya sama-sama berbahan singkong, karakter dan sejarah kuliner ini menampilkan dua sisi menarik dari kearifan lokal masyarakat Jawa.
Secara bahan, tiwul dan gatot sama-sama menggunakan singkong (ketela pohon) yang dikeringkan menjadi gaplek. Namun, perbedaan mulai tampak dari proses pengolahannya. Tiwul dibuat dari gaplek yang ditumbuk halus menjadi tepung, kemudian dikukus hingga matang. Teksturnya lembut, kenyal, dan sedikit manis alami. Sementara gatot menggunakan gaplek yang sudah terfermentasi sebagian atau bahkan mulai berjamur alami, kemudian direbus atau dikukus hingga empuk. Karena proses fermentasi itulah, gatot memiliki aroma khas dan rasa gurih yang unik.
Dari segi tampilan, tiwul biasanya berwarna cokelat muda hingga kecokelatan tergantung jenis gaplek yang digunakan. Tiwul sering disajikan sebagai pengganti nasi, terutama di daerah Gunungkidul, Wonogiri, hingga Pacitan, karena kandungan karbohidratnya tinggi dan mampu menggantikan beras. Tiwul kerap disantap bersama sayur lombok ijo, ikan asin, atau urap sayur.
Sementara itu, gatot tampil dengan warna kehitaman dan tekstur lebih padat. Makanan ini dahulu dianggap sebagai “penyelamat” di masa paceklik, ketika bahan makanan sulit ditemukan. Kini, gatot justru menjadi kuliner nostalgia yang banyak dicari karena cita rasa khas dan nilai historisnya. Di beberapa daerah, gatot disajikan dengan parutan kelapa, menjadikannya camilan yang menggugah selera.
Keduanya juga memuat filosofi hidup masyarakat Jawa, kesederhanaan, ketahanan, dan kreativitas dalam memanfaatkan sumber daya alam. Tiwul dan gatot menjadi simbol ketekunan masyarakat desa yang mampu bertahan hidup dengan bahan pangan seadanya, namun tetap menghasilkan hidangan bergizi dan nikmat.
(Dela Apriyanti)
Editor : Iwa Ikhwanudin