Bagi masyarakat lokal, hidangan ini memiliki kedudukan penting, bahkan ada ungkapan bahwa rasanya wajib dicicipi untuk menyempurnakan kunjungan ke sana.
Uniknya, Embal berawal dari pengolahan tanaman yang berbahaya jika dikonsumsi mentah.
Embal terbuat dari singkong (ubi kayu), yang di daerah asalnya dikenal sebagai kasbi.
Secara spesifik, singkong yang digunakan untuk membuat Embal mengandung kadar asam sianida yang tinggi, menjadikannya beracun jika tidak diolah dengan benar.
Proses pengolahan tradisional yang dilakukan secara turun-temurun adalah kunci utama untuk menghilangkan racun tersebut dan mengubah singkong menjadi bahan pangan yang aman dan bergizi.
Proses ini, yang seringkali dilakukan dengan cara penggilingan, pemisahan sari beracun, dan penindihan dengan batu, merupakan inti dari tradisi kuliner ini.
Pada masa lampau, embal memiliki peran vital sebagai makanan pokok pengganti nasi bagi masyarakat Maluku Tenggara.
Kandungan seratnya yang tinggi dan relatif rendah gula menjadikannya pilihan utama yang menyehatkan dan mengenyangkan.
Bahkan, dalam beberapa catatan, Embal dipercaya memiliki manfaat kesehatan, seperti membantu melancarkan pencernaan dan disebut sebagai "obat kanker" oleh beberapa sumber.
Seiring waktu, fungsi Embal berevolusi. Selain tetap menjadi makanan pokok, ia mulai diolah menjadi aneka camilan yang dinikmati bersama teh atau kopi.
Kini, Embal telah mengalami modernisasi. Berkat upaya pengembangan UMKM, Embal kini dikemas ulang dengan branding dan packaging yang lebih modern, sehingga meningkatkan nilai jualnya di pasaran, bahkan dapat didatangkan hingga ke luar daerah seperti Jawa.
Embal bukan sekadar kue berbahan dasar singkong; ia adalah narasi panjang tentang ketahanan pangan lokal, kearifan dalam mengolah alam yang berisiko, serta evolusi budaya yang mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.
Bagi kalian yang belum pernah mencoba embal, jangan lupa untuk mencoba ya!
Penulis: Cut Nazwa Khiranjani
Editor : Bahana.