Namun, di balik popularitas tahu, tersimpan sebuah permata kuliner tradisional yang tak kalah unik dan lezat, yakni Kadedemes.
Makanan yang berbahan dasar tidak biasa ini belakangan menjadi sorotan karena keunikan rasa dan kondisinya yang mulai sulit ditemukan.
Kadedemes adalah hidangan yang terbuat dari kulit singkong yang diolah. Jangan salah, bagian yang digunakan bukanlah kulit luar yang kasar, melainkan lapisan bagian dalam (biasanya berwarna putih atau merah muda) dari singkong atau ubi kayu.
Nama "Kadedemes" sendiri dalam bahasa Sunda diartikan sebagai "kaleuwihan" atau sisa yang berlebihan, yang menyiratkan bagaimana makanan ini tercipta dari pemanfaatan bahan yang sering dianggap limbah.
Proses pengolahannya cukup sederhana namun memerlukan ketelitian. Kulit singkong harus dikupas, dicuci bersih, kemudian direbus hingga empuk untuk menghilangkan getah dan lendirnya.
Setelah itu, kulit singkong dipotong-potong dan diolah menjadi tumisan (oseng-oseng) dengan bumbu-bumbu dapur yang umum, seperti bawang merah, bawang putih, cabai rawit, dan garam.
Hasil akhirnya adalah masakan tumisan dengan tekstur yang unik—agak kenyal namun lembut—dan cita rasa yang memanjakan lidah.
Kombinasi gurih dari bumbu tumisan dan pedasnya cabai rawit membuat Kadedemes menjadi lauk pendamping nasi hangat yang sangat nikmat. Lebih dari sekadar lezat, Kadedemes juga memiliki nilai gizi.
Kulit singkong bagian dalam ini diketahui mengandung nutrisi seperti vitamin B, C, tanin, dan amilum dalam kadar yang cukup tinggi. Ini membuktikan bahwa kuliner tradisional sering kali lahir dari kearifan lokal dalam mengolah sumber daya pangan secara maksimal.
Sayangnya, meski kaya akan sejarah dan rasa, keberadaan Kadedemes kini semakin langka. Di tengah gempuran kuliner modern, makanan tradisional ini mulai sulit ditemukan di warung-warung makan atau pasar tradisional Sumedang, menjadikannya kuliner yang terancam punah. Para pegiat budaya dan pecinta kuliner Sumedang berharap Kadedemes dapat diangkat kembali dan dilestarikan.
Melestarikan Kadedemes bukan hanya tentang menikmati cita rasa masa lalu, tetapi juga tentang menghargai tradisi pangan yang diwariskan oleh leluhur.
Keunikan Kadedemes menunjukkan bahwa Sumedang memiliki kekayaan kuliner yang jauh lebih beragam dari yang dikenal luas.
Oleh karena itu, bagi wisatawan atau warga lokal yang ingin merasakan sensasi kuliner yang otentik dan berbeda, mencari dan menikmati sepiring Kadedemes adalah cara terbaik untuk mendukung pelestarian warisan budaya ini.
Apakah dari kalian sudah ada yang pernah mencoba kuliner satu ini?
Penulis: Cut Nazwa Khiranjani