Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Wingko Babat: Kue Tradisional yang Terkenal dari Lamongan hingga Semarang

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 3 Desember 2025 | 18:19 WIB
Ilustrasi kue tradisional Wingko Babat (foto: pinterest)
Ilustrasi kue tradisional Wingko Babat (foto: pinterest)

RADAR MALIOBORO – Wingko babat, kue tradisional yang terkenal dengan rasa manis dan gurih, kini dikenal luas sebagai oleh-oleh khas Semarang. Namun, penasaran dengan asal-usulnya? Kue ini sebenarnya berasal dari Babat, Lamongan, Jawa Timur.

Sejarah wingko babat dimulai pada akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1898, ketika Loe Soe Siang dan istrinya, Djoa Kiet Nio, yang merupakan perantau Tiongkok, mulai membuat kue ini di Babat. Kue ini awalnya dikenal dengan nama bibingka, sebuah istilah yang berasal dari bahasa Tionghoa yang berarti kue dari beras ketan.

Pada tahun 1944, keluarga Loe Soe Siang pindah ke Semarang akibat situasi yang tidak kondusif pasca-perang. Di sana, anaknya Loe Lan Hwa mulai memproduksi dan menjual wingko sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk mengenang kampung halamannya, kue ini dinamakan "Wingko Babat."

Sejak saat itu, wingko babat menjadi semakin terkenal di Semarang dan diakui sebagai oleh-oleh khas kota tersebut, meskipun asalnya dari Lamongan. Pada tahun 2021, terdapat sekitar 10 industri wingko babat yang terdaftar sebagai UMKM di Semarang.

Wingko babat terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti tepung ketan, kelapa parut, gula pasir, dan santan. Campuran ini menghasilkan tekstur lembut dan rasa yang manis gurih. Seiring berjalannya waktu, wingko babat kini hadir dalam beragam varian rasa, termasuk cokelat, keju, pisang, dan durian.

Untuk Anda yang ingin mencoba membuatnya sendiri di rumah, berikut adalah resep sederhana wingko babat:

1. Campurkan tepung ketan, kelapa parut, garam, dan vanili bubuk.

2. Tambahkan larutan gula pasir dan air hangat, lalu uleni hingga adonan tercampur rata.

3. Bentuk adonan menjadi bulatan pipih.

4. Panggang adonan di atas teflon atau oven hingga matang dan berwarna kecoklatan.

Meskipun berbagai jajanan modern bermunculan, wingko babat tetap eksis dan menjadi favorit banyak orang. Upaya para produsen dalam berinovasi dan menjaga kualitas tetap menjadi kunci. Kini, wingko babat tidak hanya dapat ditemukan di toko oleh-oleh, tetapi juga di berbagai platform online, membuatnya lebih mudah diakses oleh konsumen.

Wingko babat bukan sekadar jajanan tradisional, melainkan juga simbol sejarah dan budaya masyarakat Lamongan dan Semarang. Kue ini mencerminkan akulturasi budaya dan semangat kewirausahaan yang patut dilestarikan.

(Laeli Musfiroh)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Wingko Babad #wingko #kuliner