Wasabi jadi salah satu topik kuliner yang banyak dicari publik, khususnya di akhir tahun 2025.
Rasa penasaran ini muncul karena sensasi pedas wasabi yang sering bikin orang terkejut saat mencobanya langsung. Pertanyaan “Gimana rasa wasabi sebenarnya?” pun ramai dicari di internet.
Wasabi adalah bumbu khas Jepang yang berasal dari tanaman Wasabia japonica. Tanaman ini tumbuh di daerah bersuhu sejuk dan air yang bersih, seperti pegunungan di Jepang.
Karena kondisi tumbuhnya yang unik, wasabi asli tergolong langka dan harganya cukup mahal di luar negara asalnya.
Rasa wasabi berbeda dengan pasta hijau yang sering dijumpai di restoran sushi atau dijual dalam kemasan di swalayan.
Wasabi asli punya kompleksitas rasa yang khas bukan sekadar pedas, tetapi juga sedikit manis dan segar dengan aroma seperti daun hijau alami.
Salah satu perbedaan mendasar antara pedasnya wasabi dan cabai terletak pada sensasi yang ditimbulkan.
Sensasi pedas cabai berasal dari senyawa capsaicin, yang lebih terasa menyengat di lidah dan membuat sensasi “terbakar”. Sementara itu, pedas wasabi berasal dari senyawa kimia allyl isothiocyanate, yang bekerja berbeda di tubuh manusia.
Karena perbedaan senyawa ini, pedasnya wasabi tidak membakar lidah seperti cabai.
Sensasi pedas wasabi justru terasa menusuk ke hidung dan tenggorokan dengan cepat, lalu menghilang dengan relatif cepat pula. Inilah yang membuat banyak orang merasakan “kejutan” ketika pertama kali mencoba wasabi.
Selain itu, banyak produk wasabi yang beredar di luar Jepang sebenarnya bukan wasabi sejati.
Banyak yang merupakan campuran dari lobak Eropa, mustard, tepung, dan pewarna hijau, sehingga rasanya kurang kompleks dibanding wasabi asli dari tanaman Wasabia japonica.
Sensasi unik ini sering dikaitkan dengan pengalaman menikmati kuliner Jepang secara autentik, termasuk sushi dan sashimi.
Meskipun pedasnya lebih “tajam” di saluran pernapasan dibanding sensasi cabai, banyak penikmat kuliner justru menganggap ini bagian dari kenikmatan saat menyantap makanan Jepang yang lengkap.
Writer Naela Alfi Syahra
Editor : Bahana.