RADAR MALIOBORO - Belakangan ini, matcha semakin sering terlihat di kalangan anak muda, terutama Gen Z. Dari coffee shop sampai media sosial, minuman berbahan dasar teh hijau ini jadi favorit banyak orang. Namun, di balik popularitasnya, matcha justru ikut terseret ke dalam perbincangan soal maskulinitas dan stigma sosial.
Tak jarang muncul anggapan bahwa matcha adalah minuman “cewek” atau kurang maskulin, terutama jika dibandingkan dengan kopi hitam yang selama ini dianggap lebih “cowok”.
Candaan semacam ini sering muncul di kolom komentar media sosial dan akhirnya memunculkan pertanyaan: sejak kapan pilihan minuman bisa dikaitkan dengan identitas gender?
Bagi Gen Z, memilih matcha sebenarnya hal yang wajar. Ada yang menyukainya karena rasanya, ada yang memilih karena kafeinnya lebih ringan, dan ada juga yang mengonsumsinya karena dianggap lebih ramah di lambung.
Baca Juga: Kenapa Remaja Zaman Sekarang Butuh Tidur yang Cukup? Ini Penjelasan dan Dampaknya bagi Kesehatan
Pilihan yang seharusnya personal ini kerap berubah menjadi bahan penilaian sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa standar maskulinitas masih sering dibatasi oleh simbol-simbol tertentu, termasuk soal selera.
Padahal, Gen Z dikenal sebagai generasi yang lebih terbuka dan tidak terlalu terikat pada label lama. Buat mereka, minum matcha atau kopi sama saja, yang penting cocok dan bikin nyaman.
Media sosial punya peran besar dalam membesarkan isu ini. Konten bercanda soal “minuman cowok” dan “minuman cewek” memang terlihat sepele, tapi lama-kelamaan bisa membentuk stigma sosial.
Baca Juga: Flexing: Arti, Contoh, dan Dampaknya bagi Anak Muda
Tanpa disadari, hal-hal kecil seperti ini ikut menekan kebebasan berekspresi, terutama bagi anak muda yang ingin jadi diri sendiri.
Akhirnya, tren matcha di kalangan Gen Z bukan cuma soal minuman, tapi juga tentang cara memaknai identitas.
Matcha hanyalah pilihan rasa, bukan penentu maskulinitas. Lewat hal sederhana ini, Gen Z pelan-pelan menunjukkan bahwa menjadi diri sendiri jauh lebih penting daripada mengikuti standar sosial yang ada. (Aribah Zalfa Nur Aini)