Warung mie ayam ini hadir di beberapa titik kota seperti kawasan Werkudara, Gowongan, serta Jl. Selokan Mataram, Kledokan yang dekat dengan aktivitas mahasiswa dan komunitas kreatif, serta dikenal dengan pendekatan visual yang berbeda dari mie ayam pada umumnya.
Popularitas Lakaey tidak hanya terlihat dari ramainya pengunjung, tetapi juga dari jejak digital yang ditinggalkan pelanggan.
Selain bisa dinikmati langsung di lokasi, menu dari Lakaey juga tersedia di layanan pesan antar daring, sehingga mudah diakses oleh pelajar dan mahasiswa.
Berdasarkan wawancara di kanal YouTube YBGPost, pemilik Lakaey, Georakha Shinar Gumilang, mengungkapkan bahwa Lakaey lahir dari situasi pandemi. Saat itu, ia berusaha mencari sumber penghasilan tambahan dan melihat peluang di sektor kuliner.
Ada dua faktor utama yang membuat Geo memilih mie ayam. Pertama, faktor legacy keluarga, karena orang tuanya telah berjualan mie ayam selama lebih dari tiga dekade dan berasal dari Wonogiri. Kedua, mie ayam dinilai memiliki prospek pasar yang luas dan mudah diterima berbagai kalangan.
Secara visual, Lakaey tampil dengan identitas yang cukup kuat. Hal ini tidak lepas dari latar belakang Geo yang memiliki dasar Desain Komunikasi Visual (DKV) dan merupakan lulusan sekolah seni. Pendekatan visual ini membuat Lakaey terlihat dekat dengan selera anak muda.
Nama Lakaey sendiri merupakan serapan bahasa Jawa yang diubah penulisannya, dari frasa “la kae” yang menunjuk pada suatu tempat atau objek. Nama ini mengandung harapan sederhana, yakni “la kae ono mie ayam” atau “di sana ada mie ayam”.
Dari sisi menu, Lakaey memiliki dasar dua varian utama, yakni mie kuah dan mie goreng.
Pengunjung juga bisa memilih jenis mie, antara mie kecil biasa dan mie lebar atau gepeng.
Salah satu pembeda Lakaey adalah penggunaan chili klenyit, hasil modifikasi racikan sendiri, yang menjadi ciri khas rasa.
Untuk topping, tersedia pilihan seperti ceker, bakso, pangsit kuah, dan pangsit goreng. Pilihan minuman pun dibuat beragam, mulai dari teh, jeruk, mojito, hingga kopi, untuk melengkapi pengalaman makan.
Harga yang ditawarkan mulai dari Rp15.000 - Rp18.000 dan dengan harga segini sangat terjangkau dikalangan mahasiswa maupun pekerja.
Dalam wawancara yang sama, disebutkan bahwa chapter pertama Lakaey dibuka di kawasan Wirobrajan dekat lapangan sepakbola. Seiring waktu, Lakaey berkembang dan hadir di beberapa lokasi lain di Yogyakarta.
Salah satu titik Lakaey ada di Jl.Selokan Mataram ini berada di area skatepark. Sementara itu, lokasi di Werkudara dan Gowongan berada di area permukiman dan dekat pusat aktivitas mahasiswa, sehingga ramai dikunjungi. Semua chapter Lakaey buka dari sore hari hingga malam hari.
Selain review video, keberadaan Lakaey juga tercermin dari ulasan pelanggan di Google Maps serta unggahan foto makanan di media sosial.
Pola rekomendasi dari mulut ke mulut secara digital ini membantu Lakaey dikenal lebih luas tanpa bergantung pada pemberitaan media arus utama.
Dengan kombinasi rasa khas mie ayam Wonogiri, harga terjangkau, lokasi strategis, serta eksposur dari ulasan, Lakaey terus memantapkan posisinya sebagai salah satu pilihan kuliner anak muda di Yogyakarta.
Penulis: Kinesha Puspa Adilla
Editor : Bahana.