Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Tren Dessert Dubai Chewy Cookies: Mengapa Begitu Digandrungi Warga Korea Selatan?

Magang Radar Malioboro • Kamis, 15 Januari 2026 | 12:14 WIB
Korean Dubai Chewy Cookies yang lagi viral.
Korean Dubai Chewy Cookies yang lagi viral.

RADAR MALIOBORO - Dessert bernama Dubai chewy cookies atau yang akrab disebut dujjong-ku tengah menjadi sensasi baru di Korea Selatan.

Bukan sekadar tren makanan viral, kehadiran kudapan unik ini bahkan ikut mengubah cara pelaku usaha kecil berjualan, strategi pemasaran restoran, hingga memengaruhi harga bahan baku di pasar.

Dubai chewy cookies sebenarnya terinspirasi dari tren cokelat Dubai yang sempat booming pada 2024.

Namun, versi Korea ini berkembang menjadi sajian baru yang benar-benar berbeda.

Isinya berupa krim pistachio dan serpihan pastry khas Timur Tengah (kataifi), lalu dibungkus marshmallow leleh dengan dibalut taburan cokelat bubuk.

Teksturnya kenyal, lengket, dan lebih mirip kue beras Mochi asal Jepang ketimbang cookies pada umumnya.

Popularitasnya meroket usai idol K-pop Jang Wonyoung dari girl group IVE mengunggah foto dessert ini di media sosial pada September lalu.

Sejak itu, lebih dari 30.000 postingan bertagar dujjong-ku, memicu antrean panjang, sistem pembelian terbatas, hingga “open run” di pagi hari menjadi pemandangan biasa di toko-toko dessert populer di Korea Selatan.

Melansir dari The Korea Herald, usaha kecil seperti kafe dan toko kue melaporkan penjualan ratusan unit per hari, dengan stok 200 hingga 300 buah ludes dalam menit pertama buka.

Menariknya, restoran dengan menu utama non-dessert, seperti jokbal, sushi, hingga ayam pedas, turut menjual Dubai chewy cookies sebagai menu tambahan.

Tujuannya bukan semata keuntungan langsung, melainkan agar nama toko mereka muncul di hasil pencarian aplikasi pesan-antar makanan.

Di platform pengantaran, kata kunci “Dubai chewy cookie” kini menjadi magnet.

Bahkan ada toko yang menyelipkan nama tersebut ke menu yang sama sekali tidak berkaitan, demi menarik perhatian konsumen.

Data Baedal Minjok, perusahaan layanan pengantaran terbesar di Korea Selatan, menunjukkan pesanan pick-up untuk dujjong-ku melonjak 300 persen pada minggu pertama bulan Januari dibanding bulan sebelumnya.

Demam Dubai chewy cookies juga membawa efek samping.

Pistachio, sebagai bahan utama, mengalami kenaikan harga signifikan.

Di Korea Selatan, harga kacang pistachio dilaporkan naik sekitar 20 persen dalam setahun terakhir, dipicu oleh tingginya permintaan global dan melemahnya nilai tukar won.

Akibat biaya produksi yang makin mahal, sebagian penjual memilih menaikkan harga, bahkan ada yang menghentikan penjualan karena keuntungan yang didapatkan semakin tipis.

Saat ini, satu buah Dubai chewy cookie bisa dibanderol hingga lebih dari 10.000 won (hampir Rp 115.000) di beberapa lokasi.

Muncul pula produk tiruan yang menuai keluhan konsumen atas kualitas rendah.

Pengamat kuliner menilai, daya tarik utama Dubai chewy cookies terletak pada tampilannya yang “berlebihan”.

Ukurannya tebal, isinya melimpah, dan terlihat sangat mencolok saat difoto atau direkam video.

Fenomena ini bukan hal baru di Korea Selatan.

Sebelumnya, macaron versi lokal juga diubah menjadi lebih besar dan penuh isian, jauh dari versi aslinya yang tipis dan ringan.

Pola ini menunjukkan bahwa visual dan kesan “berlimpah” sering kali lebih menarik bagi konsumen dibandingkan keseimbangan rasa.

Media sosial kemudian mempercepat penyebarannya.

Makanan yang terlihat ekstrem, mudah dikenali, dan mengundang rasa penasaran cenderung lebih cepat viral.

Kritikus kuliner Yi Yong-jae menilai kecenderungan tersebut berakar pada cara pandang budaya yang lebih dalam.

Menurutnya, budaya kuliner Korea cenderung lebih menghargai tampilan yang mencolok dan kesan sajian yang melimpah, ketimbang kehalusan rasa atau keseimbangan yang sederhana.

“Kurang lebih seperti orang yang lebih suka meja makan penuh dengan banyak hidangan, meski rasanya biasa saja, dibandingkan sedikit hidangan tapi disiapkan dengan sangat matang,” ujar Yi Yong-jae sebagaimana dikutip koreaherald.com.

Meski belum bisa dipastikan berapa lama popularitas Dubai chewy cookies akan bertahan, dessert ini telah menunjukkan bagaimana satu makanan viral mampu menciptakan efek domino sekaligus mencerminkan budaya konsumsi modern Korea Selatan. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#viral #dessert #korea selatan #Dubai Chewy Cookies #tren makanan