Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Fenomena Laron di Musim Hujan, dari Siklus Alam hingga Olahan Tradisional

Magang Radar Malioboro • Kamis, 15 Januari 2026 | 14:50 WIB
Peyek laron adalah salah satu makanan unik yang terdapat di beberapa daerah di pulau Jawa. (X/FFOODFESS)
Peyek laron adalah salah satu makanan unik yang terdapat di beberapa daerah di pulau Jawa. (X/FFOODFESS)

RADAR MALIOBORO - Setiap awal musim hujan, laron kerap bermunculan dan mengerubungi sumber cahaya di malam hari. Fenomena ini bukan kebetulan. Melansir dari ANTARA, laron merupakan fase dewasa rayap bersayap yang keluar dari sarang setelah hujan pertama untuk mencari pasangan dan membentuk koloni baru.

Kemunculan laron biasanya terjadi secara serentak dan hanya berlangsung singkat. Setelah kawin, laron jantan akan mati, sementara betina melepaskan sayapnya dan mulai membangun sarang baru. Karena muncul musiman dan berlimpah, laron sejak lama dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat sebagai lauk pangan alternatif. Di sejumlah daerah Jawa, seperti Wonogiri, Boyolali, dan Yogyakarta, laron diolah menjadi berbagai hidangan, yang paling dikenal adalah peyek laron.

Meski terdengar ekstrem bagi sebagian orang, warga lokal yang terbiasa mengonsumsinya menyebut peyek laron memiliki rasa gurih dan renyah, tidak jauh berbeda dari peyek berbahan kacang atau udang kecil.

Dari sisi gizi, laron bukan serangga sembarangan. Mengutip KlikDokter dan sejumlah studi pangan, laron mengandung protein tinggi, disertai lemak, asam amino, zat besi, zink, serta antioksidan. Kandungan tersebut membuat laron bisa menjadi sumber protein alternatif.

Namun, konsumsi laron tetap memiliki risiko. Laron tidak boleh dikonsumsi mentah karena dapat membawa mikroorganisme yang memicu gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare. Proses pengolahan yang tidak tepat juga bisa merusak kandungan gizinya.

Selain itu, sebagian orang dapat mengalami reaksi alergi, seperti gatal atau biduran, setelah mengonsumsi laron. Karena itu, para ahli menegaskan bahwa laron sebaiknya tidak dijadikan makanan utama, melainkan konsumsi sesekali dengan pengolahan yang benar.

(Affrendi Kurniawan)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Olahan Tradisional #fenomena #laron #musim hujan #siklus alam