Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Pesona Kue Tradisional yang Tak Lekang oleh Tren Dessert Kekinian

Bahana. • Selasa, 20 Januari 2026 | 15:07 WIB

Kue Tradisional Tetap Eksis di Tengah Masyarakat (Pinterest)
Kue Tradisional Tetap Eksis di Tengah Masyarakat (Pinterest)
Hampir setiap bulan selalu ada saja dessert viral yang memenuhi beranda media sosial. Dari kue burnt cheesecake, croffle, croissant, hingga berbagai kreasi kue korea yang menggoda.

Antrean panjang terbentuk, banyak orang rela menunggu berjam-jam demi mencicipi makanan yang sedang hits. Namun di sisi lain, pasar tradisional dan warung jajanan pasar tetap ramai dikunjungi pembeli yang mencari klepon, lemper, atau kue lapis legit.

Salah satu kekuatan terbesar kue tradisional adalah nostalgia. Setiap gigitan sering kali membawa kita kembali ke masa kecil, ketika nenek membuatkan jajanan di sore hari atau saat jajan di depan sekolah bersama teman-teman.

Kue tradisional hadir membawa cerita. Ada kehangatan dan kedekatan personal yang tidak bisa ditawarkan oleh dessert viral.

Ketika kita membeli kue tradisional, sering teringat pada orang-orang terdekat yang dulu memperkenalkan kue tersebut kepada kita.

Koneksi inilah yang membuat kue tradisional punya tempat khusus di hati, meskipun jarang terlihat di beranda media sosial dengan estetika tinggi.

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh ketidkpastian, kue tradisional menawarkan sesuatu yang familiar dan menenangkan. Rasanya sudah pasti, tidak ada kejutan yang mengecewakan. Hal ini berbeda dengan dessert viral yang terkadang hype-nya tidak sebanding dengan rasanya.

Kue tradisional bertahan bukan karena tren, tetapi karena rasa yang memang sudah teruji puluhan bahkan ratusan tahun.

Resep ini diturunkan dari generasi ke generasi, disempurnakan seiring berjalannya waktu dan tetap relevan hingga kini.

Kesederhanaan adalah kekuatan lain dari kue tradisional. Bahan-bahannya tidak rumit seperti tepung, gula, kelapa, santan, dan beberapa bahan dasar lainnya. Tidak ada bahan impor mahal atau teknik pembuatan yang terlalu kompleks.

Berbeda dengan dessert modern yang sering bermain dengan tekstur dan tampilan, kue tradisional lebih fokus pada rasa dan fungsi.

Kue tradisional dibuat untuk dinikmati dan mengenyangkan, bukan sekadar untuk difoto. Sangat relevan bagi masyarakat yang mencari makanan enak dengan harga yang masuk akal.

Ini adalah filosofi yang mungkin terdengar kuno, tetapi justru itu yang membuatnya tetap dicari.

Faktor praktis juga tidak bisa diabaikan. Kue tradisional umumnya jauh lebih terjangkau dibandingkan dessert kekinian.

Dengan uang dua puluh ribu rupiah, kita bisa mendapatkan beberapa potong kue tradisional yang cukup untuk berbagi. Sementara itu, satu potong kue viral bisa mencapai lima puluh ribu rupiah atau lebih.

Belakangan ini, generasi muda mulai melirik kembali kue tradisional. Bahkan, beberapa pengusaha muda mengemas kue tradisional dengan cara yang lebih modern.

Kemasan lebih menarik, promosi lewat media sosial, dan inovasi rasa tanpa menghilangkan identitas aslinya.

Penting untuk dipahami bahwa keberadaan kue tradisional dan dessert kekinian bukanlah kompetisi.

Keduanya punya tempat dan fungsi masing-masing. Dessert kekinian menawarkan pengalaman baru, inovasi rasa, dan momen instagramable yang menyenangkan. Sementara kue tradisional menawarkan kenyamanan, nostalgia, dan keaslian yang sulit ditandingi.

Di tengah tren yang silih berganti, kue tradisional mengajarkan tentang nilai kesederhanaan dan ketahanan.

Tidak perlu viral untuk tetap relevan. Yang dibutuhkan hanya konsisten dalam setiap gigitan. Keberadaan kue tradisional mengingatkan kita bahwa tidak semua hal harus mengiktui tren. Ada nilai dalam mempertahankan tradisi, menjaga resep yang turun-temurun, dan mendukung pedagang kecil yang sudah berjualan puluhan tahun.

Penulis: Adzkia Fahdila Khairunisa

Editor : Bahana.
#kue tradisional