Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Foto Dulu, Baru Makan: Ritual yang Mengubah Cara Kita Menikmati Makanan

Magang Radar Malioboro • Senin, 26 Januari 2026 | 14:50 WIB
Ilustrasi Memotret sebelum Makan. (Freepik)
Ilustrasi Memotret sebelum Makan. (Freepik)

RADAR MALIOBORO - Memotret makanan sebelum makan kini menjadi kebiasaan umum di era media sosial. Ponsel yang selalu siap mengabadikan hidangan sebelum dimakan, menjadi sebuah fenomena yang berkembang pesat berkat platfrom seperti instagram, tiktok dan whatsApp Stories.

Lebih dari sekadar pamer, foto makanan menjadi jendela untuk berbagi pengalaman. Setiap unggahan merangkum apresiasi terhadap cita rasa, keindahan penyajian, hingga kenangan tempat dan suasana yang tercipta.

Dibalik kesederhanaanya, memotret makanan juga memiliki makna psikologis yang menarik. Aktivitas ini menciptakan jeda reflektif yang membuat seseorang lebih menghargai hidangan dan usaha pembuatnya, baik dari restoran maupun dapur rumahan.

Interaksi media sosial dari notifikasi, komentar, dan like mendorong suntikan dopamin yang menciptakan kepuasan instan. Estetika visual dari warna makanan, pencahayaan, komposisi juga memberikan kepuasan tersendiri.

Kombinasi reward sosial dan visual inilah yang membuat banyak orang merasa “ada yang kurang” jika makan tanpa dokumentasi.

Restoran hingga UMKM kini berlomba menghadirkan menu yang tidak hanya lezat, tetapi juga fotogenik karena tampilan menjadi strategi pemasaran yang efektif di era digital. Piring dengan warna kontras, garnish yang manis, hingga tata letak makanan yang instagramable menjadi pertimbangan penting dalam penyajian.

Bagi sebagian orang, memotret makanan bukan lagi sekadar dokumentasi, kegiatan ini telah berevolusi menjadi sebuah hobi.

Namun, tren ini juga memunculkan dilema tersendiri. Ketika fokus bergeser dari rasa ke tampilan visual, esensi menikmati makanan bisa terabaikan.

Tekanan untuk menghasilkan foto yang menarik perhatian warganet kadang membuat orang lebih sibuk mengatur angle kamera ketimbang merasakan kelezatan sajian yang ada di hadapan.

Foto-foto makanan juga menyimpan nilai historis bagi individu, menjadi pengingat akan momen spesial seperti makan malam keluarga, reuni teman lama, atau sekadar menikmati waktu sendiri.

Tradisi memotret makanan tidak bisa dinilai semata-mata positif atau negatif. Maknanya bergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Selama dilakukan dengan kesadaran penuh dan tidak mengabaikan esensi kebersamaan, kebiasaan ini tetap bisa menjadi bagian dari pengalaman kuliner yang mengesankan.

Baca Juga: Mengapa Rasa Tidak Percaya Diri Justru Meningkat Saat Dewasa? Ini Penjelasan dan Solusinya

Yang terpenting, jangan sampai garpu dan lidah kalah sibuk dari jari yang men-scroll mencari angle terbaik. Karena pada akhirnya, makanan diciptakan untuk dinikmati bukan hanya untuk dilihat.
(Tiya Ermiyati )

Editor : Iwa Ikhwanudin
#makan #Baru #foto #Dulu