Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Viral Eksperimen Kuliner Mix Buah yang Menghasilkan Rasa Buah Baru: Benar Nyata atau Hanya Sugesti?

Magang Radar Malioboro • Kamis, 12 Februari 2026 | 11:17 WIB
Konten kreator Ainiraaul mencoba eksperimen mix buah yang diklaim menghasilkan sensasi rasa buah lain.
Konten kreator Ainiraaul mencoba eksperimen mix buah yang diklaim menghasilkan sensasi rasa buah lain.

RADAR MALIOBORO - Media sosial kembali diramaikan oleh eksperimen kuliner yang memancing rasa penasaran.

Kali ini, bukan soal resep unik atau teknik memasak baru, melainkan percobaan sederhana mencampurkan buah dengan buah lain, atau buah dengan bahan sehari-hari, yang diklaim dapat menghasilkan rasa buah baru.

Konten kreator makanan di Instagram @ainiraaul menjadi salah satu yang menarik perhatian setelah membagikan hasil mix buah yang disebut mampu menghadirkan sensasi rasa berbeda, mulai dari apel dan timun yang terasa seperti melon hingga tomat dan jeruk yang diklaim menyerupai mangga.

Eksperimen ini dengan cepat menyebar dan memicu dua reaksi sekaligus.

Di satu sisi, banyak orang penasaran dan ikut mencoba karena merasa hasilnya memang mendekati rasa yang disebutkan.

Di sisi lain, tak sedikit pula yang meragukan klaim tersebut dan menilainya sebagai efek sugesti semata.

Perbedaan respons ini kemudian memunculkan pertanyaan: apakah mix buah tersebut benar-benar menghasilkan rasa baru, atau hanya permainan persepsi otak?

Dalam dunia kuliner, konsep mencampurkan bahan untuk menghasilkan rasa yang saling melengkapi sebenarnya bukan hal baru.

Teknik ini dikenal dengan istilah food pairing, yakni pendekatan yang menggabungkan seni dan ilmu dalam menciptakan harmoni rasa.

Melansir foodtechpathshala.com, food pairing bekerja dengan memadukan bahan-bahan yang memiliki karakter rasa atau senyawa tertentu sehingga ketika dikonsumsi bersamaan, rasanya terasa lebih seimbang dan kompleks.

Teknik ini sudah lama digunakan oleh chef profesional untuk memperkaya pengalaman makan.

Beberapa kombinasi bahkan telah menjadi pasangan klasik.

Cokelat dan cabai, misalnya, menghadirkan perpaduan manis dan pedas yang saling menguatkan.

Tomat dan basil menciptakan keseimbangan antara rasa asam dan aroma segar, sementara apel dan kayu manis kerap diasosiasikan dengan rasa hangat dan nyaman.

Dari sini, gagasan bahwa dua atau lebih bahan dapat menciptakan sensasi rasa berbeda sebenarnya cukup masuk akal.

Namun, eksperimen viral di media sosial membawa konsep ini ke arah yang lebih ekstrem dan kasual.

Alih-alih sekadar memperkuat rasa, kombinasi buah yang dicoba justru diklaim mampu meniru rasa buah lain secara spesifik.

Dalam beberapa percobaan, apel dan jeruk disebut terasa seperti kiwi, timun dan kiwi dianggap menyerupai stroberi, bahkan kombinasi alpukat dengan tambahan bahan seperti garam, air soda, hingga pasta gigi diklaim menghasilkan rasa lemon atau apel.

Menurut sang kreator, sebagian besar campuran tersebut memang terasa mirip dengan buah yang dimaksud setelah dicicipi langsung.

Pengalaman ini kemudian mendorong banyak orang untuk mencoba sendiri di rumah. Menariknya, hasil yang dirasakan tidak selalu sama.

Ada yang mengaku merasakan kemiripan rasa, tetapi ada pula yang merasa hasilnya biasa saja atau bahkan jauh berbeda.

Perbedaan pengalaman inilah yang kemudian mengarah pada peran otak dalam membentuk persepsi rasa.

Apa yang dirasakan lidah ternyata tidak bekerja sendirian.

Melansir falmontflavors.com, otak memegang peran besar dalam menafsirkan sensasi rasa dan sangat sensitif terhadap pengaruh eksternal seperti suasana hati, ekspektasi, serta tampilan visual makanan.

Setiap orang juga memiliki bank memori rasa yang terbentuk dari pengalaman mencicipi makanan sepanjang hidupnya.

Ketika seseorang diberi informasi lebih dulu tentang rasa yang seharusnya muncul, otak cenderung mencari dan menyesuaikan sensasi yang paling mendekati memori tersebut.

Misalnya, saat seseorang membayangkan rasa melon lalu mencicipi campuran apel dan timun, otak akan menangkap unsur manis, segar, atau berair yang mirip dengan karakter melon, lalu menyimpulkannya sebagai rasa melon.

Proses ini terjadi secara alami dan sering kali tanpa disadari, sehingga sugesti menjadi faktor yang cukup kuat dalam pengalaman mencicipi.

Meski demikian, menyebut fenomena ini semata-mata sebagai ilusi juga kurang tepat.

Beberapa kombinasi memang secara alami memiliki karakter rasa yang saling melengkapi.

Timun yang ringan dan segar, misalnya, dapat menonjolkan rasa manis apel, sementara jeruk yang asam bisa mengubah persepsi rasa tomat sehingga terasa lebih segar dan manis.

Artinya, ada interaksi rasa yang nyata, meskipun hasil akhirnya tetap sangat dipengaruhi oleh persepsi masing-masing individu.

Fenomena viral mix buah ini pada akhirnya menunjukkan bahwa pengalaman makan tidak hanya soal lidah, tetapi juga soal pikiran.

Rasa merupakan hasil pertemuan antara sensasi fisik, ingatan, dan ekspektasi.

Dua orang bisa mencicipi campuran yang sama, tetapi justru merasakan hal yang berbeda, tergantung pada pengalaman dan bayangan rasa yang mereka miliki.

Terlepas dari perdebatan antara rasa nyata dan sugesti, makanan bisa menjadi ruang eksplorasi yang menyenangkan.

Eksperimen ini membuat orang jadi lebih sadar terhadap rasa, lebih berani bereksplorasi, dan memahami bahwa pengalaman makan juga dipengaruhi oleh pikiran.

Jadi, apakah viral mix buah ini benar-benar menghasilkan rasa buah baru? Jawabannya bisa jadi berada di tengah-tengah.

Ada interaksi rasa yang nyata, tetapi persepsi otak memainkan peran besar dalam membentuk pengalaman tersebut. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#viral #Rasa Buah Baru #kuliner #eksperimen kuliner #Mix Buah