Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Menilik Sejarah dan Keunikan di Balik Perayaan Hari Sushi Internasional 18 Juni

Bunga Faizati Hudianna • Sabtu, 20 Juni 2026 | 14:14 WIB
Ilustrasi sushi. (Foto: Magnific)
Ilustrasi sushi. (Foto: Magnific)

 RADAR MALIOBORO - Tanggal 18 Juni menjadi momen yang paling dinantikan oleh para pencinta kuliner di seluruh dunia. Pasalnya, hari ini diperingati sebagai Hari Sushi Internasional. 

Hidangan ikonik asal Jepang yang memadukan nasi bercuka dengan aneka lauk segar ini telah bertransformasi dari sekadar makanan tradisional menjadi salah satu fenomena budaya kuliner di era modern.

Perayaan tahunan ini tidak hanya menjadi ajang bagi restoran untuk menyajikan menu spesial, tetapi juga momen untuk mengapresiasi sejarah panjang serta seni keahlian di balik setiap gulungannya.

Baca Juga: Menjaga Ruang Publik dari Bahaya Diskriminasi: Refleksi Hari Memerangi Ujaran Kebencian Internasional 2026

Sejarah penetapan Hari Sushi Internasional pertama kali diinisiasi pada tahun 2009 melalui sebuah kampanye digital di media sosial yang dipelopori oleh Chris DeMay. Ide tersebut langsung disambut hangat oleh komunitas kuliner internasional. 

Kini, 18 Juni diakui secara luas sebagai hari libur kuliner non-resmi yang dirayakan di berbagai belahan dunia, mulai dari Asia, Amerika, hingga Eropa. Biasanya, orang-orang merayakannya dengan menyantap sushi di restoran favorit atau saling berbagi sushi dengan orang terdekat.

Meski perayaannya baru dimulai pada tahun 2009, keberadaan sushi sebenarnya sudah sangat lama. Menilik sejarahnya, bentuk awal sushi jauh berbeda dengan yang kita kenal sekarang.

Baca Juga: Pentingnya Regulasi Emosi dan Cara Mengelolanya demi Kesehatan Mental

Cikal bakal sushi berawal dari metode pengawetan ikan kuno di Asia Tenggara yang kemudian menyebar ke China lalu Jepang. Disebut narezushi, metode ini dilakukan dengan menaruh ikan di atas nasi asin lalu dibungkus daun untuk difermentasi selama berbulan-bulan agar bertahan lama. Namun, dahulu nasi asam tersebut akan dibuang dan hanya ikannya saja yang dikonsumsi.

Evolusi berikutnya melahirkan namanare, yaitu hidangan dari ikan setengah mentah yang dikonsumsi sebelum rasanya berubah. Melalui fase inilah pola konsumsi bergeser dari sekadar metode pengawetan menjadi jenis masakan baru.

Cikal bakal sushi modern mulai muncul di Jepang pada zaman Edo. Saat itu, ikan dan sayur ditaruh di atas gumpalan nasi bercuka dengan ukuran sebesar onigiri. 

Pada awal kemunculannya, sushi merupakan makanan mewah yang sangat mahal, bahkan harganya konon setara dengan pungutan pajak negara. Namun seiring waktu, sushi berubah menjadi makanan cepat saji yang dijual di tenda kaki lima untuk warga yang sedang terburu-buru.

Baca Juga: Bukan Cuma Ikut Tren, Ini Alasan Kenapa Olahraga Lari Makin Digilai

Di Tokyo, evolusi sushi modern semakin matang. Ikan segar langsung disajikan di atas nasi tanpa melalui proses fermentasi yang panjang lagi.

Penyebaran sushi secara global mengalami lonjakan pesat pasca-gempa besar Kanto pada tahun 1923, ketika banyak koki sushi bermigrasi ke luar daerah dan luar negeri. Kini, sushi telah beradaptasi dengan lidah masyarakat dunia. 

Di Amerika Serikat, lahir variasi populer seperti California Roll yang memadukan alpukat dan daging kepiting. Sementara di Indonesia, adaptasi lokal terlihat dari maraknya sushi dengan saus mentai, keju, hingga penggunaan bahan matang untuk mengakomodasi konsumen yang belum terbiasa menyantap ikan mentah.

Baca Juga: Mengenal Cosmeticorexia: Ketika Anak Perempuan Kecanduan Skincare Orang Dewasa

Selain rasanya yang lezat dan dinilai sehat karena kaya protein serta vitamin, sushi juga menyimpan beberapa fakta unik dan etiket tradisional yang jarang diketahui. Berikut adalah uraiannya.

• Secara historis, menyantap sushi jenis nigiri di Jepang lebih lazim menggunakan tangan langsung, bukan sumpit. Sumpit biasanya hanya digunakan untuk menyantap sashimi.

• Panduan etiket Jepang menyarankan untuk membalik sushi dan hanya mencelupkan bagian ikannya saja ke dalam kecap asin. Mencelupkan bagian nasi akan membuat nasi hancur karena menyerap terlalu banyak cairan.

• Irisan tipis jahe acar yang disajikan bukan sebagai topping, melainkan sebagai pembersih langit-langit mulut yang dimakan di antara potongan sushi yang berbeda.

• Karena wasabi asli (Eutrema japonicum) sangat mahal dan sulit dibudidayakan, sebagian besar “wasabi” di restoran kasual sebenarnya merupakan campuran lobak, mustard, dan pewarna makanan hijau.

• Demi alasan kesehatan dan membunuh parasit, peraturan internasional mengharuskan ikan yang akan disajikan mentah untuk dibekukan terlebih dahulu pada suhu ekstrem tertentu sebelum disajikan. Jadi, mayoritas ikan mentah pada sushi berkualitas sebenarnya sudah melalui proses pembekuan yang aman.

(Bunga Faizati Hudianna).

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Hari Sushi Internasional #hari #sushi #internasional