RADAR MALIOBORO - Bayangkan ketika baru pertama kali ke Jogja, lalu ada teman lokal bilang, "Yuk, coba Soto Sampah, enak banget lho."
Mungkin reaksi yang pertama bukan ngiler, tapi malah curiga.
Untungnya, "sampah" di sini bukan soal kebersihannya.
Menurut cerita yang beredar, nama tidak biasa ini muncul karena tampilan semangkuk soto yang terlihat berantakan.
Gajih sapi yang melimpah, campuran bihun, tauge, dan sayuran yang disiram kuah kaldu gurih, sampai terkesan seperti campuran acak di piring.
Warung Soto Sampah legendaris di utara Tugu Jogja ini sudah berdiri sejak sekitar 1970-an.
Awalnya dikenal sebagai Soto Simak atau Soto Becak karena jadi favorit para penarik becak di sekitar Pasar Kranggan, sebelum pelanggannya sendiri, entah tukang becak atau mahasiswa, akhirnya membuat julukan "Soto Sampah" yang justru dipakai resmi oleh pemiliknya.
Yang menarik, fenomena ini bukan cuma muncul di Jogja.
Baca Juga: Nyaris Tak Terdengar, Mas Bupati Kunjungi Titik Nol Klaten: Bukti Sejarah Terbentuknya Klaten!
Di Inggris, ada hidangan bernama Toad in the Hole yang artinya kodok di dalam lubang.
Bukan hidangan kodok betulan, isinya sebenarnya cuma sosis yang dipanggang dalam adonan mirip pancake, tanpa kodok sama sekali.
Di China, ada "stinky tofu" atau tahu busuk, yang justru jadi buruan wisatawan kuliner karena baunya yang menyengat dianggap bagian dari pengalaman otentiknya.
Bahkan di beberapa daerah lain di Indonesia sendiri, ada versi serupa dengan sebutan seperti "Bakso Tahu Kotor".
Baca Juga: Trailer Jumanji: Open World Dirilis, Intip Babak Akhir Petualangan Karakter Game di Dunia Nyata
Dengan pola yang sama, yaitu namanya lahir dari candaan spontan pelanggan, bukan strategi branding yang disengaja.
Nama-nama tidak lazim semacam ini justru jadi peluru pemasaran yang ampuh, tanpa perlu tim marketing atau biaya iklan sepeser pun.
Nama formal yang biasa-biasa saja mudah dilupakan, tapi nama seaneh "Soto Sampah" justru melekat kuat di kepala orang karena membuat penasaran.
Lalu bisa menjadi bahan cerita ke teman, sampai akhirnya jadi alasan orang sengaja mampir meski awalnya ragu.
Kalau ke Jogja dan kebetulan lewat utara Tugu, mampirlah ke Jalan Kranggan.
Warung ini buka nyaris 24 jam, dari jam 7 pagi sampai jam 3 dini hari.
Harga semangkuknya cuma sekitar Rp 9.000 sampai Rp12.000.
Terbilang murah untuk sepiring cerita yang sudah bertahan lebih dari lima dekade.
Cukup unik pula untuk jadi bukti bahwa nama yang terdengar aneh, kadang justru yang paling gampang diingat.
Editor : Meitika Candra Lantiva