Sekilas melihat bentuknya, Anda mungkin akan berpikir ini hanyalah ubi jalar atau singkong biasa. Warnanya cokelat keandesan, sedikit berlumpur, dan bentuknya memanjang tidak beraturan. Namun, jangan menilai buku dari sampulnya!
Begitu Anda mengupas kulit tipisnya, Anda tidak akan menemukan tekstur tepung yang keras, melainkan daging buah yang jernih, renyah, dan sangat berair.
Inilah Umbi Yakon (Smallanthus sonchifolius), tanaman asli Pegunungan Andes di Amerika Selatan yang kini kian populer di tanah air. Di daerah asalnya, yakon kerap dijuluki El Manjar de la Tierra alias "Sajian Lezat dari Tanah"—atau lebih populernya "Apel Tanah".
Baca Juga: Batuk Halus Gunung Merapi, Dua Kali Guguran Lava Meluncur hingga 1,8 Kilometer di Sektor Barat Daya
Jika ubi pada umumnya harus direbus, dikukus, atau digoreng terlebih dahulu sebelum dimakan, umbi yakon justru sebaliknya. Sensasi terbaik menikmati yakon adalah memakannya langsung secara mentah layaknya makan buah segar.
Teksturnya sangat garing dan renyah, mirip perpaduan antara buah pir dan bengkuang. Kandungan airnya sangat melimpah (sekitar 86–90%) dan membuat tenggorokan langsung terasa segar begitu mengunyahnya.
Hal paling ajaib dari umbi yakon adalah rasa manisnya. Rasa manis alami yang lembut dengan sentuhan rasa apel, pir, dan sedikit rasa madu tipis. Berbeda dari buah-buahan manis lain yang kaya akan glukosa atau fruktosa bebas, manisnya yakon berasal dari Fruktooligosakarida (FOS).
Seperti buah apel atau pir pada umumnya, daging umbi yakon yang sudah dikupas bisa berubah warna menjadi agak kecokelatan atau oksidasi jika dibiarkan di udara terbuka. Agar warnanya tetap jernih dan tampilannya cantik, rendam sebentar potongan yakon di dalam air yang diberi sedikit perasan jeruk nipis atau garam sebelum disajikan.
Editor : Bahana.