RADAR MALIOBORO - Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, tradisi “nyoto pagi” merupakan ritual sarapan yang sulit ditinggalkan.
Soto dengan kuah hangat di badan dan sayuran segar menambah selera santap yang nikmat memulai aktivitas di pagi hari.
Sehingga wajar saja jika berburu soto di pagi hari dilakukan banyak orang.
Ibarat soto nomor dua setelah bubur yang menjadi makanan perburuan di pagi hari.
Baca Juga: Data DTSEN Dinilai Tak Akurat, Komisi D DPRD Kota Jogja Minta Pemkot Tak Kaku Patok Desil Bansos
Nah, soto umumnya identik dengan sajian berkuah hangat dan kaya rempah, lengkap dengan tauge, kubis, seledri, serta irisan daging ayam atau sapi.
Mulai dari kuah bening Soto Lamongan hingga kuah santan yang gurih khas Soto Betawi, kuah seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidangan soto.
Namun, ketika berkunjung ke Klaten, Jawa Tengah, anggapan tersebut akan menemukan pengecualian.
Di daerah ini terdapat sajian yang cukup unik dan sangat digandrungi masyarakat setempat, yaitu Soto Garing atau yang juga dikenal sebagai Soto Kering dan Sogor.
Berbeda dari soto pada umumnya, sajian ini hampir tidak memiliki kuah.
Baca Juga: Pasang Surut Ruben Onsu: Dari Panggung Tawa, Isu Mistis, Perceraian, hingga Kasus Hukum Rp3,5 Miliar
"Kalo soto kuah identik dengan menu yang cocok disantap pagi hari, kalau Toring (Soto Garing) rasanya cocok dimakan siang hari," celoteh Iva Latifah, warga Klaten kepada Radar Jogja.
Perbedaan itu mencolok. Jika soto lebih ke porsi mini lantaran diberi kuah. Sedangkan Toring porsi nasinya lebih banyak dengan toping kubis dan toge yang masih segar.
Kemudian juga sambalnya. Porsinya lebih banyak dari soto kuah. Jenis sambelnya juga berbeda.
Mayoritas menggunakan sambal tomat dengan kecap hitam dan taburan bawang goreng.
Ada juga potongan tomatnya, lalu daging suwir dan biasanya dicampur dengan potongan mendoan seperti bakwan, tahu atau tempe.
Baca Juga: Total Hadiah hingga Rp700 Miliar, The International Dota 2 Jadi Turnamen Esports Paling Bergengsi
"Kalau semuanya diaduk, beh nikmat mana yang kau dustakan," celetuknya.
Dengan porsi jumbo itu sebabnya Toring lebih pas saat dinikmati di siang hari.
Disaat lapar-laparnya, tenaga terkuras setelah beraktivitas di pagi hari.
"Bahkan bisa sepiring berdua kalau sama pacar," guraunya.
Sensasi “Garing” yang Justru Menggugah Selera
Dalam bahasa Jawa, garing berarti kering.
Meski demikian, Soto Garing bukan berarti benar-benar kering tanpa cairan sama sekali.
Biasanya, penjual tetap memberikan sedikit kuah atau kaldu yang pekat untuk membasahi nasi dan isian soto.
Kuah yang diberikan dalam jumlah terbatas inilah yang menjadi ciri khasnya.
Baca Juga: Team Spirit Ukir Sejarah, Jadi Juara Dunia Dota 2 Tiga Kali Usai Tumbangkan TEAM VISION
Nasi tidak sampai terendam seperti pada soto berkuah, tetapi cukup mendapatkan sentuhan kaldu, kecap, dan bumbu sehingga menghasilkan rasa yang lebih pekat nan nikmat.
Bagi orang Klaten, terutama para penikmat kuliner tradisional, karakter inilah yang membuat Soto Garing begitu istimewa.
Rasanya sederhana, tetapi justru memberikan pengalaman makan yang berbeda dari soto pada umumnya.
Rasa Gurih yang Lebih Pekat dan Nikmat
Minimnya kuah membuat rasa bumbu terasa lebih terkonsentrasi.
Kaldu, kecap, serta rempah berpadu langsung dengan nasi dan berbagai isian.
Setiap suapan memberikan sensasi gurih dan manis yang lebih kuat tanpa rasa “terlalu berkuah”.
Baca Juga: Transmigrasi Fun Run Angkat Sport Tourism dan UMKM Lereng Merapi
Kondimen yang digunakan juga tetap beragam.
Soto Garing biasanya dilengkapi dengan suwiran ayam atau irisan daging, tauge, kubis, seledri, dan bawang goreng.
Perpaduan tersebut memberikan tekstur yang beragam, mulai dari renyahnya tauge dan kubis hingga lembutnya daging dalam setiap gigitan.
Kesederhanaan penyajian justru menjadi daya tarik tersendiri.
Soto Garing membuktikan bahwa hidangan soto tidak harus memiliki kuah melimpah untuk menghasilkan rasa yang nikmat.
Baca Juga: Klaten International Motocross, Ratusan Crosser Adu Ketangkasan di Sirkuit Bokong Semar
Makin Nikmat dengan Aneka Lauk Pendamping
Seperti halnya soto di berbagai daerah, menikmati Soto Garing rasanya belum lengkap tanpa tambahan lauk.
Di warung-warung tradisional Klaten, pembeli biasanya dapat memilih berbagai lauk pendamping sesuai selera.
Beberapa pilihan yang cocok disantap bersama Soto Garing antara lain tempe goreng garit, tahu, perkedel, telur puyuh, sate usus, ati ampela, babat goreng, sundukan lainnya, serta kerupuk rambak.
Lauk-lauk tersebut memberikan tambahan rasa gurih dan tekstur renyah yang membuat sarapan semakin nikmat.
Baca Juga: Produk UMKM Laris Manis di Pesta Rakyat Tumplek Bleg Geerrr
Bagi masyarakat setempat, kombinasi semangkuk atau sepiring Soto Garing dengan beberapa lauk pendamping merupakan pengalaman kuliner yang sangat akrab.
Tidak heran jika sajian ini memiliki penggemar tersendiri di Klaten.
Kuliner yang Melekat dengan Masyarakat Klaten
Soto Garing bukan sekedar makanan yang hadir karena tren.
Bagi masyarakat Klaten, hidangan ini telah menjadi salah satu bagian dari kekayaan kuliner daerah yang diwariskan dan terus dinikmati hingga sekarang.
Kawasan Delanggu dikenal sebagai salah satu daerah yang lekat dengan keberadaan Soto Garing.
Warung-warung soto di sekitar Pasar Delanggu dan Jalan Raya Jogja-Solo menjadi tujuan bagi masyarakat yang ingin menikmati sarapan dengan cita rasa khas tersebut.
Keberadaannya juga membuat Soto Garing menarik bagi wisatawan yang melintas di jalur Solo–Yogyakarta.
Baca Juga: Skincare Kok Nggak Ngaruh? Ini 5 Ciri dan Solusi Cepat Mengatasi Permasalahan Kulit
Berhenti sejenak untuk mencicipinya dapat menjadi cara sederhana untuk mengenal sisi lain kuliner tradisional Klaten.
Soto Garing, Identitas Kuliner yang Patut Dicoba
Soto Garing menunjukkan bahwa kuliner Nusantara selalu memiliki cara unik untuk mengolah bahan-bahan sederhana menjadi hidangan yang berkarakter.
Jika kebanyakan soto mengandalkan kuah sebagai daya tarik utama, Soto Garing justru menawarkan pengalaman berbeda melalui kaldu yang sedikit, rasa yang lebih pekat, serta perpaduan nasi dan kondimen yang kuat.
Bagi masyarakat Klaten, Soto Garing bukan sekadar pilihan sarapan, tetapi juga bagian dari keseharian dan identitas kuliner daerah.
Sementara bagi wisatawan, hidangan ini menjadi bukti bahwa menikmati soto tidak selalu harus dengan kuah yang melimpah.
Jadi, jika suatu saat berkunjung ke Klaten, jangan hanya mencari soto berkuah.
Cobalah Soto Garing khas Klaten dan rasakan sendiri keunikannya.
Bisa jadi, sajian yang sekilas terlihat sederhana dan “kering” ini justru menjadi salah satu pengalaman kuliner yang paling berkesan.
Editor : Meitika Candra Lantiva