SLEMAN - Kafe kini tak sekadar menjadi tempat ngopi atau nongkrong saja. Bagi mahasiswa, ruang semacam ini juga dibutuhkan untuk mengerjakan tugas, berdiskusi, bertemu komunitas, hingga mencari suasana baru di luar rumah dan kampus.
Kebutuhan tersebut coba dijawab Boulevard Coffee yang hadir di Wisma Kagama, tepat di seberang Gedung Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dikembangkan Gama Multi Group melalui unit usaha Gama Akomodasi, Boulevard Coffee mengusung konsep quiet third place. Yakni ruang alternatif untuk beristirahat, bekerja, berdiskusi, dan bersosialisasi. Konsep itu dirangkum dalam semangat Think, Thrive, & Socialize.
General Manager Gama Akomodasi Priyo Sri Bawono mengatakan Boulevard Coffee dirancang untuk memenuhi kebutuhan civitas akademika UGM dan masyarakat umum, khususnya mahasiswa.
“Mahasiswa bisa ngobrol santai sambil berdiskusi sekaligus mengerjakan tugas kuliahnya,” kata Priyo saat peresmian Jumat (28/8/2026).
Baca Juga: Diikuti 135 Peserta, Cerita Anak-Anak Taklukkan Rasa Takut di Kompetisi Renang Fun Swimming
Tak hanya menjadi tempat berkegiatan, Boulevard Coffee juga melibatkan mahasiswa dalam operasional sebagai barista, waitress, hingga marketing freelance.
Langkah tersebut sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam pengelolaan usaha.
Untuk kegiatan komunitas, Boulevard Coffee menerapkan skema minimum spend pembelian menu, bukan tarif sewa ruang. Dengan skema ini, ruang dapat dimanfaatkan untuk diskusi, rapat organisasi, workshop, maupun kelas kreatif tanpa biaya sewa khusus.
Direktur Utama Gama Multi Group Ibnu Gunawan mengatakan, Boulevard Coffee juga menjadi ruang kolaborasi antarunit usaha dan komunitas di lingkungan UGM. Salah satunya dengan menghadirkan produk artisan tea dari PT Pagilaran serta membuka peluang kolaborasi bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Baca Juga: Detik-Detik Warga Nepal Menyelamatkan Diri dari Terjangan Banjir Bandang
Kehadiran Boulevard Coffee menunjukkan pergeseran fungsi kafe menjadi ruang temu baru bagi mahasiswa dan komunitas.
Tak hanya untuk menikmati kopi, tetapi juga bertukar gagasan, membangun jejaring, dan tetap produktif dengan biaya yang lebih terjangkau.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Malioboro